"Jadi cerucuk ini memang panjangnya 4 meter, tetapi dipasang berlapis, sekitar dua sampai tiga lapis," ujarnya. Kemudian pihaknya pun berkoordinasi dengan pihak Jembatan Mahkota II, untuk memantau kondisi jembatan.
"Tetapi dari pengamatan kami tidak ada pergerakan. Meski begitu kami tetap membahas hal ini dengan pihak jembatan dan pusat," terangnya. Tak hanya itu, pihaknya pun mulai melakukan proteksi di lereng di bagian atas, dengan menutup dengan plastik mencegah air tidak mengalir di lereng, supaya tidak terjadi longsor.
"Dan kami juga membuat saluran air, agar tidak mengalir ke titik longsor," tuturnya. Rensi mengaku untuk metode cerucuk galam tersebut, merupakan langkah pencegahan, sedangkan untuk disain, nantinya akan dibahas bersama pihak terkait.
"Karena itu harus melindungi sungai dan jembatan. Dan kami saat ini masih mengambil data primer, data bor, data elevasi, data sungai dan elevasi di area titik abrasi. Jadi ini nantinya untuk menentukan teknik penanganan abrasi tersebut seperti apa," bebernya.
Saat disinggung terkait dengan kapan akan mulai dilakukan penanganannya, Rensi menyebutkan jika data primer dan perhitungan selesai pengerjaan akan dimulai dalam minggu ini. "Kami akan diskusikan kembali dengan KKJT dan BWS, ya estimasinya seminggu. Jadi bulan Juni awal sudah bisa mulai penanganan longsor skala besar, kalau skala kecil kan sekarang juga sudah dikerjakan," tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, pada Minggu (25/4/2021) lalu terjadi abrasi, tepat di bawah Jembatan Mahkota II di sisi Palaran, yang menyebabkan satu orang yakni Aan Ariadi (22) meninggal dunia, setelah tercebur ke sungai. Dan akibat abrasi tersebut pula terjadi pergeseran di pilar jembatan, sehingga sejak Senin (26/4/2021) lalu akses jembatan ditutup baik dari arah Palaran maupun Sambutan hingga saat ini.[]
Penulis : Nancy
Editor : Rusdi