Metode pengukuran yang dilakukan guna mengetahui tingkat kemiringan jembatan dan keretakan jembatan dengan menggunakan alat pengukuran bernama total station . "Pengukuran yang kami lakukan ini untuk mengetahui aksi apa yang akan diambil dalam penanganannya," tuturnya.
Pengukuran yang dilakukan juga perlu berkala guna mengetahui kepastian angka, Yudha menyebutkan memerlukan waktu sekira satu pekan untuk melakukan investigasi pada jembatan tersebut. Meskipun beberapa hari belakangan ini PUPR Samarinda juga sangat aktif dalam melakukan pengukuran dan pelaporan kepada Pemerintah Pusat, tak menampik Yudha menegaskan hal itu memang perlu untuk dievaluasi.
"Kami pinginnya juga cepat dibuka tapi yang paling pentingkan perlu memastikan keamanannya," ujar Yudha. Disinggung mengenai alat elektrikal monitoring system yang memiliki sensor pengukur tegangan kabel yang menempel pada kabel jembatan tersebut Yudha membeberkan alat itu justru menjadi sasaran oleh oknum yang tak bertanggung jawab. "Memang ada tapi alatnya justru dicuri," ungkapnya.
Yudha menjelaskan alat tersebut memiliki peran dan fungsi yang sangat penting bagi jembatan tersebut, sebab dari kehadiran alat tersebut tegangan kabel hingga kemiringan jembatan dapat diketahui dengan mudah. Sebelum peristiwa ini pengukuran rutin pada jembatan selalu dilakukan oleh PUPR Samarinda dalam tenggat waktu satu tahun sekali dengan melakukan metode yang sama serta seluruh komponen jembatan yang ada.
Meninjau lapangan tersebut tak hanya melakukan pengukuran kemiringan jembatan namun pada seluruh area yang mempengaruhi itu juga menjadi pekerjaan bagi para pihak yang tergabung, seperti contohnya abrasi tanah yang terjadi juga tentu dilakukan investigasi. Yudha membeberkan kedatangannya juga tak sendiri ia turut memboyong para ahli kompeten yaitu ahli geologi.
Penulis : */Claudius Vico
Editor : Bambang Irawan