Kepala Dinas PUPR Samarinda Hero Mardanus kepada korankaltim.com menjelaskan peninjauan mereka tersebut. “Tujuan kami ke lokasi berkenaan dengan pengukuran kemiringan Jembatan Mahkota II dari sisi Palaran," kata Hero. Berdasarkan kekuatan jembatan diketahui kedalaman pondasi jembatan sedalam 61 meter.
"Kami akan cek apakah ada pengaruhnya, atau tidak, setelah terjadi abrasi ini, karena secara logika, kalau dilihat tanah ini diikat oleh pondasi jembatan," ungkapnya. Bersama Dinas PUPR ikut pula konsultan Jembatan Mahkota II "Nanti, konsultan yang akan melakukan pengecekan lebih dalam besok. Jadi aktivitas di bawah jembatan ini akan dihentikan sementara," sebut Hero lagi.
Konsultan Jembatan Mahkota II Taufik Renaldi membenarkan pernyataan Hero. “Besok kami akan lakukan pengecekan karena terakhir pada Februari 2021 lalu kami ukur posisinya bagus. Besok akan dilihat, kalau memang ada kemiringan, ya mau tidak mau jembatan sementara akan ditutup, kalau memang kondisinya parah," kata Taufik.
Selasa (27/4/2021) lusa hasil dari pengukuran jembatan akan keluar. “Kalau besok tidak hujan, hasilnya besoknya sudah ada," sebutnya. Sementara Penanggung Jawab Proyek Pelaksana PT Nindya Karya, Rensi mengatakan jika sebelum pihaknya masuk, ada kegiaatan penambangan pasir.
"Setelah kami masuk, baru kegiatan penambangan pasir ini bergeser. Kalau pengerjaan penimbunannya itu sudah lama sejak Februari 2020 dan tidak ada lagi penimbunan. Tadi malam itu ada kegiatan penarikan kapal yang tenggelam dan tadi pagi itu memang saat kami pengerjaan itu tanah sempat turun," kata Rensi.
Terkait dengan terdapatnya palung dibawah sungai, ia mengaku tidak mengetahuinya. "Kami tidak tahu, karena tidak sampai sejauh itu perencanaannya dan untuk metode ini, kami sempat bahas kepada beberapa pihak, harus spell disisi sungai itu metodenya sudah kita bahas," ungkapnya.
Timbunan tersebut adalah metode kerja dan telah dibahas bersama tim terkait, termasuk dari pihak jembatan dan Balai Wilayah Sungai (BWS). "Ini harusnya ditimbun jauh ke sungai, memang untuk aksesmen dan untuk akses pengerjaan pancang itu kami perlu untuk tanah ini dimajukan, untuk akses kami bisa menjangkau yang kami kerjakan.
Karena lahan ini kami juga menunggu akan mulai dipancang. Dulunya disini ada tanah, kalau dari sini sekitar 5 meter ke sungai, karena hanya menambah dan ini rencananya akan dibuat Instalasi pengolah lumpur," papar Rensi lagi.
Sebelum dilakukan pemancangan akan dilakukan tes getaran, dan timbunan ini adalah satu metode pelaksanaan untuk akses memancang, makanya kami ada pengurukan tanah. "Pemancangan rencananya dilakukan pada awal bulan depan," tutupnya.
Penulis : Nancy
Editor : Aspian Nur