Kordinator Lapangan (Korlap) Aksi, Akhmad Rifa'i mengatakan tujuan aksi yang dilakukan untuk mengawal terkait tenggelamnya kapal jenis SPOB Mulya Mandiri 07 muatan CPO atau minyak kelapa sawit.
"Kejadian ini menimbulkan beberapa hal seperti korban jiwa dan pencemaran di perairan Sungai Mahakam. Sehingga, inilah yang membuat kami ada di KSOP ini," ujar Ahmad Rifa'i.
Nah, dari informasi serta pemberitaan di media, jika kapal yang tenggelam tersebut tak memiliki izin gerak maupun muatan, termasuk pada tahun 2017 silam telah beralih kepemilikan.
"Dan hingga saat ini, dari rentan 2015 tidak mengantongi izin dari KSOP," ujarnya.
Untuk itu pihaknya datang untuk menuntut empat hal kepada KSOP untuk transparansi ke publik perihal investigasi maupun pengawasan yang dilakukan KSOP, dalam hal ini fungsi dari KSOP tersebut yang berbicara terkait keselamatan dan keamanan pelayaran.
"Disini KSOP harus mengakui jika ini adaalah kelalaian dan ketimpangan di lingkup KSOP, dalam hal menjalankan tugas dan fungsinya, serta mengevaluasi diri, bahkan meminta maaf ke publik,"ungkapnya.
" Juga mereka harus berkomitmen untuk mengusut tuntas, segala bentuk tindakan ilegaln terkait transportasi di perairan sungai Mahakam. Dan kami juga menuntut dalam hal menandatangani pakta integritas bersama HMI, dalam menjalankan tugas KSOP sebagai-baiknya," sambungnya.
Tetapi, jika nantinya empat tuntutan ini tak diindahkan, mereka mengaku akan terus turun ke jalan menggelar aksi.
"Jika tidak diindahkan, kami pasti akan turun dengan masa yang lebih banyak," imbuhnya.
Tak hanya kapal tenggelam di Sungai Mahakam, termasuk dengan meledaknya tongkang di galangan PT Galangan Barokah Perkasa pada Kamis (11/2/2021) lalu kawasa Pulau Atas Sambutan.
Yang saat itu kata Rifa'i menyebabkan tewasnga 3 pekerja, yang saat itu sedang melakukan pengerjaan atau maintanance, serta adanya tumpahan Bahan Bakar Minyak (BBM).
"Terkait kasus ini juga kami melakukan pengawalan, berbicara soal dampak lingkungan. Sehingga kami pun akan mengawal kasus ini, sehingga kejadian-kejadian serupa tidak terjadi," pungkasnya.[]
Penulis : Nancy
Editor : Rusdi