Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda, Nurrahmani membenarkan pihaknya diminta oleh walikota untuk memulai rencana itu pada 2022 mendatang, hingga saat ini DLH juga tengah menunggu pembangunan jalan menuju TPA Sambutan yang sempat digadang-gadangkan sebagai pengganti TPA Bukit Pinang, namun ternyata pada kawasan itu nantinya hanya sebagai TPA antara saja tidak bersifat abadi.
"Tahun ini bisa saja, cuma jalan aksesnya belum rampung, disebut antara karena bisa bertahan hanya tiga sampai lima tahun," ujarnya. Permintaan orang nomor satu di Samarinda itu untuk mencarikan lahan yang komprehensif, Yama sapaan karibnya membeberkan kawasan Gunung Cermin disebut sebagai TPA abadi oleh pihaknya.
Namun sebelumnya DLH juga mempunyai dua opsi tempat, selain TPA Sambutan ada pula TPA di kawasan Palaran. Namun pada kawasan Palaran itu ternyata diungkapkan Yama lahan bekas konsesi tambang. "Sebetulnya tidak masalah, perlu dipelajari lebih lanjut di daerah Palaran," tuturnya.
Hal itu lantaran Yama perlu memastikan apakah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) atau tidak, pasalnya jika ingin memenuhi SNI dijelaskan wajib mempunyai badan air pada kawasan tersebut, bahkan kebiasaannya lahan pasca tambang itu menutup badan air. "Tapi kalau memang itu bisa kenapa tidak," tegasnya.
Disebutkan Yama pada TPA Gunung Cermin masyarakat telah menyiapkan tanah seluas 115 hektare, walaupun keperluannya hanya sekira 50 hektare saja sudah cukup. Progres rencana tersebut terus berjalan, bahkan beberapa waktu pihaknya presentasi ke Pemprov Kaltim untuk penetapan lokasi (penlok).
Penulis : Claudius Vico
Editor : Bambang Irawan