Kemudian, ia mengaku kembali didatangi oleh salah seorang yang minta izin untuk kembali melewati jalur terminal tersebut, tetapi ditolak. "Saya didatangin sama mereka, itu dua kali, tetapi saya tidak izinkan, karena takut juga kalau ada masalah. Kemudian, saya lapor ke pimpinan (Dishub) dan juga tidak diperbolehkan, makanya akses jalannya ditutup barrier beton (pembatas jalan berbahan beton)," ungkapnya.
"Ya, kalau beginikan bisa ganggu piring nasi saya," sambung Misran saat ditemui di terminal tersebut Selasa (2/2/2021) sore tadi. Menurut keterangan warga sekitar yang enggan disebutkan namanya mengatakan, aktivitas penambangan ini, telah berlangsung sepekan lalu.
"Iya sudah ada beberapa kali lewat, menggunakan truk kecil, sepertinya itu karungan. Kalau aktivitasnya baru-baru saja, belum ada sebulanan," singkatnya. Terpisah, Ketua RT 17 Jahrani Adi mengaku selama ini pihaknya tidak pernah memberikan izin kepada para pelaku penambangan di belakang terminal tersebut.
"Tidak pernah ada izin ke saya, dan setahu saya itu tanah warga sudah dijual ke PT Bukit Baiduri Energi (BBE)," tutur pria 48 tahun tersebut. "Tetapi, sepertinya itu dari pihak perusahaan sudah tahu ada penambangan ilegal, makanya, akses masuk lokasi itu diportal dengan besi," sambungnya.
Jahrani juga mendapatkan laporan dari warga, jika saat itu pernah mereka izin untuk memasukkan alat. "Sekalinya, langsung bekerja (penggalian batu bara), itu informasinya dari warga sekitar," pungkasnya. Dikonfirmasi terpisah Lurah Bukit Pinang, Eko Purwanto mengaku baru mengetahui adanya kegiatan penambangan di RT 17 tersebut.
"Selama ini belum ada laporan dari warga maupun ketua RT setempat. Saya akan cek kebenarannya. Tapi kalau itu memang RT merasa tidak pernah memberi izin, berarti kegiatan itu sudah jelas ilegal," tegasnya.
Selama ini ia mengaku telah melakukan upaya penertiban kegiatan penambangan ilegal di wilayahnya. Namun karena keterbatasan wewenang, pihaknya tak bisa berbuat banyak. "Apalagi kalau aktivitas dilakukan oleh BBE, kami tidak bisa menghentikan. Karena perusahaan itu punya izin," pungkasnya.
Nah, berdasarkan pantauan di lapangan, terlihat jelas terdapat adanya galian lubang tambang, serta kupasan tanah yang terlihat ada emas hitam (batu bara). Meski begitu tak satu pun terlihat alat yang digunakan untuk melakukan pengerukan batu bara, yang diduga telah disembunyikan, pasca akses jalan masuk terminal tersebut ditutup.
Penulis : */Nancy
Editor : Bambang Irawan