“Sifatnya hanya sementara, karena nanti lapak berjualan yang dibongkar dibuatkan lagi oleh kelurahan. Kalau eksavator sudah bisa masuk dan keluar, pedagang bisa berjualan lagi,” jelas Irwan Ananta, warga setempat. Gulma tersebut berasal dari daerah Hulu Sungai Mahakam, di Kutai Barat dan Kutai Kartanegara.
Upaya yang dilakukan dengan mendatangkan eksavator menurut Irwan untuk mencegah semakin banyaknya keramba dan rumah warga yang terimbas. “Rumah orangtua saya kena imbas, untuk saat ini yang saya lihat keramba banyak yang rusak, tempat orang mandi roboh, ada tiang rumah yang patah,” papar Irwan yang rumah orangtuanya ada di RT 13 Loa Janan.
Sebenarnya sudah diusahakan menjauhkan gulma dengan cara menarik ke tengah sungai, namun tug boat yang dikerahkan tak kuat sehingga gulma tetap terkumpul di tepi sungai yang banyak terdapat keramba, tempat mandi dan rumah warga. “Mudah-mudahan saja secepatnya bisa diatasi, karena kami khawatir dan harus berjaga-jaga,” tutup Irwan.
Sebelumnya Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III melalui Kepala Satuan Kerja (Satker) Operasional dan Pengendalian, Adi Suwarso mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait mengatasi banyaknya gulma di Sungai Mahakam tersebut. “Gulma sudah menumpuk dan tidak mudah untuk mengatasinya. Perlu pengorbanan,” tutur Adi.
Muncul sejumlah opsi untuk melarutkan gulma tersebut ke sisi yang lebih hilir agar gulma itu bisa larut ke laut. Namun menurut Adi, opsi tersebut akan menimbulkan masalah lain, ketika nantinya gulma tersebut justru tersangkut di kawasan muara sungai Mahakam. “Belum lagi kalau kita mau angkut, harus dipikirkan lokasi untuk membuangnya. Memang kompleks,” papar Adi. (*)
Penulis : Permata S Rahayu
Editor : Aspian Nur