Wijaya meminta untuk dibelikan air mineral, minuman berenergi serta makanan ringan dan saat tiba, ternyata nomor pemesan tersebut tak aktif, yang ternyata telah diblokir. Mengetahui, dirinya ditipu Dwi hanya bisa pasrah karena uang Rp153 ribu miliknya harus melayang. Pasalnya sebelumnya orderan dari pelaku yang mengaku polisi tersebut, juga pernah terjadi.
"Iya, ini hanya sampingan saja, sebenarnya saya kerja sebagai sekuriti di mal. Uangnya untuk tambahan bapak saya sakit sudah semingguna masuk rumah sakit. Uang Rp200 ribu juga yang saya pakai pinjam dari tetangga, sebagai modal," kata Dwi.
Hanya berselang 30 menit, seorang ojol bernama Dedi juga datang ke Polsek Samarinda Kota, yang ternyata juga mendapatkan orderan dari pelaku yang mengaku sebagai polisi tersebut. Dedi mengaku, saat itu mendapatkan orderan dua air mineral, minuman berenergi dan sebungkus kacang. Tak hanya itu saja, Dedi telah dua kali membelikan pulsa, masing-masing Rp100 ribu.
"Lebih Rp 200 ribu ruginya. Ya, padahal ini buat modal keliling dan baru jadi ojol semingguan ini, makanya tidak sadar kalau sampai ditipu," papar Dedi. Keduanya berncana akan melaporkan penipuan tersebut ke kantor perwakilan.
"Mau lapor ke kantor, ya harapannya agar kantor bisa mengatasi," harap Dedi. Orderan fiktif dan penipuan seperti ini sebenarnya bukan pertama kalinya, dengan modus dan titik pengantaran serupa. (*)
Penulis: Nancy
Editor: Aspian Nur