Jaang menyampaikan terima kasih atas doa dan ucapan di medsos dari kolega, kerabat, keluarga dan warga Samarinda. “Semoga ilmu yang diperoleh ananda dapat memberi manfaat bagi orang banyak dan semoga tetap istiqomah,” tutur Jaang.
Pengorbanan luar biasa, menurut Jaang sejak lulus SMPN 1 putrinya langsung masuk asrama SMA Plus Melati selama 3 tahun sama seperti siswa lainnya ikut aturan sekolah dan lanjut kuliah di Singapura 3,5 tahun.
“Kita harus ikhlas, dan terus berdoa karena memang tidak bersama. Bahkan saat lebaran Idul Fitri ada beberapa kali keluarga kami tidak lengkap. Jadi saya berdua isteri saja lebaran. Memang waktu itu, tidak bersamaan libur kuliah di Singapura dan tidak bisa ijin,” ungkap Jaang.
Tidak sampai di sini, Jaang juga kembali menambah waktu satu tahun lagi tak bersama. Karena Tisya saat ini mengambil bahasa Jerman di Goethe Institute di Menteng Jakarta.
“Selain mengambil bahasa Jerman di Goethe Institute, secara mandiri belajar bahasa Prancis,” ucap Jaang seraya menyebutkan bahasa Inggris sudah dikuasai sebagai modal kuliah di Singapura lalu.
Walaupun anak seorang walikota, ternyata Tisya tetap hidup sederhana dan mandiri selama kuliah di Singapura dan selanjutnya di Jakarta.
“Waktu ke kampus di Singapura, Tisya naik bis dari rumah,” ungkap Tisya alumni SD Muhammadyah 1 Jl Berantas dan SMPN 1 Samarinda ini.
Begitu pula dengan di Jakarta. Tisya yang sudah memiliki SIM A, tidak juga ingin menggunakan mobil pribadi untuk ke kampusnya. “Naik Grab Car aja ke kampus nya. Lebih efisien,” ucap Tisya polos.
Hal ini dibenarkan Jaang. “Dia gak mau pakai mobil pribadi. Dianggap biaya besar seperti pemeliharaan termasuk parkirnya. Begitu juga waktu di SMA Plus, kalau pulang dari asrama, Tisya naik taksi, pas kembali ke asrama baru diantar pakai mobil sendiri,” beber Jaang.
Jaang sendiri mengaku sewaktu dirinya kuliah, malah berjalan kaki dari asrama ke kampusnya. Bahkan tidak bisa beli buku, hanya foto copy. “Harapan saya, anak bisa lebih dari saya,” pungkas Jaang. (ms)