Sebelum tanah bergeser ke badan jalan, tiang listrik sempat miring akibat terdorong longsoran tanah namun langsung ditangani PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero. "Waktu tanah longsor saya lagi jaga alat dan akses jalan masih dibuka, masih bisa lewat, untung saja tidak ada korban jiwa," kata Rendy relawan Kota Tepian yang saat itu tengah menjaga alat berat milik Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Kaltim.
Material tanah bercampur batu serta pepohonan merambah ke tengah jalan sehingga menyebabkan akses jalan penghubung Palaran - Samarinda Seberang tak bisa dilalui dan mau tidak mau jalan harus ditutup demi keamanan para pengendara yang melintas.
Jalan ditutup sekitar satu kilo sebelum titik longsor, tepatnya dari simpang Jembatan Mahkota II, sisi Palaran.
Dari pantauan di lapangan titik longsor baru hingga saat ini masih terus mengalami pergerakan, bahkan median tengah jalan terbuka akibat dorongan tanah longsor tersebut.
Saat ditemui di lokasi longsor Jumat (31/7/2020) hari ini Lurah Mangkupalas, Muhammad Noor menerangkan pihaknya telah melakukan koordinasi kembali baik Kecamatan Samarinda Seberang, PUPR Kaltim serta BPBD Samarinda.
Meski telah tersedia dua alat berat, dia mengaku akan kembali meminta penambahan untuk penanganannya. "Untuk titik longsor yang baru ini, sudah kami koordinasikan lagi selain minta tambahan alat berat juga personel," kata Noor.
Kawasan tersebut kalau dilihat memang rawan longsor sehingga untuk pencegahannya pihaknya juga akan koordinasi ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda, guna dilakukan analisis lingkungan.
Noor juga sempat menyinggung salah satu yang menjadi penyebab longsor juga karena adanya aktivitas hauling batu bara pada 2010 silam "Ya, kalau saya lihat ini ada dampaknya juga, seperti dampak lingkungan, karena dampak ini kan tidak langsung dirasakan, seperti saat ini," sebutnya. (*)
Penulis: Nancy
Editor: Aspian Nur