Menurut keterangan pemilik indekost, Supardi, sebelum ditemukan meninggal oleh istrinya, sehari sebelumnya Adi tidak mengeluhkan sakit dan masih dalam kondisi sehat. “Kemarin dia sehat-sehat saja, makan bersama di acara. Setelah itu di pergi naik motor malamnya sudah di kamar, tadi siang sudah tidak ada, itu istri saya yang temukan karena dia mau antar makanan, saat diketok tidak ada jawaban, makanya buka pakai kunci serep, saat dibuka hidung dan mulutnya berbusa," kata Supardi.
Meski terakhir bertemu dalam kondisi sehat wal afiat, sebenarnya Adi memiliki riwayat sakit leukimia atau kanker darah. Adi sempat bekerja sebagai karyawan di salah satu mal di Jalan Untung Suropati, tetapi sejak mewabahnya Covid-19 dia kena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Karena itu Adi kesulitan memenubi keperluan sehari-harinya dan bahkan untuk membayar uang kost, dia meminta kiriman dari kampung halamannya. "Padahal rencananya dalam waktu dekat dia mau pulang kampung dan katanya dia punya kakak disini (Samarinda), tapi saya tidak tahu yang mana," bebernya.
Penemuan mayat Adi langsung dilaporkan ke Polsek Samarinda Ulu serta tim Inafis Polresta Samarinda dibantu relawan Kota Tepian.
Evakuasi terhadap korban dilakukan dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap serta penerapan protokol kesehatan, hal ini dilakukan melihat kondisi Pandemi Covid-19 saat ini.
"Jenazah saat ini sudah kami bawa ke RSUD AW Sjahranie untuk dilakukan visum, terkait penyebab meninggalnya korban yang mengeluarkan buih baik dari hidung maupun mulut korban," kata Kanit Reskrim Polsek Samarinda Ulu, Ipda M Ridwan.
Dari pemeriksaan secara kasat mata tak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh Adi. Selain itu, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti seperti ponsel dan beberapa botol obat-obatan yang kemungkinan dikonsumsi Adi untuk meredakan penyakitnya. "Keluarga almarhum juga sudah kami hubungi," tutupnya. (*)
Penulisan: Nancy
Editor: Aspian Nur