Acung memaparkan, sebelumnya, pada akhir tahun 2019 lalu, PLN Sangkulirang melakukan pemasangan tiang listrik dan instalasi di rumah warga namun pada prosesnya ada kendala karena tanaman yang berada di halaman rumah warga dan kebun warga untuk jalur tiang dan kabel listriknya menghambat pengerjaan tersebut. "Warga merespons cepat dengan membersihkan tanaman untuk memperlancar pemasangan," sebutnya.
Dari banyaknya tanaman yang di bersihkan, hampir keseluruhan adalah tanaman kelapa sawit yang merupakan sumber penghasilan warga di Desa Kaliorang. Nyatanya meski sudah dibersihkan listrik tetap belum maksimal menyala. Warga pun merasa dirugikan, karena tanaman sudah bersih namun hingga kini belum ada kejelasan lanjutan mengenai pemasangan listrik.
Karena itulah warga Desa Kaliorang PLN Sangkulirang melanjutkan pengerjaannya. Sebelumnya, diketahui bahwa listrik di Desa Kaliorang hanya hidup selama 5 jam mulai dari pukul 18.00 sampai 23.00 WITA.
Untuk mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Widyagama ini, warga sangat berharap adanya koordinasi antar pihak Pemerintah Desa Kaliorang dan Camat Kaliorang kepada PLN serta Bupati Kabupaten Kutai Timur agar segera ditindaklanjuti. "Supaya ada kepastian Desa Kaliorang untuk menikmati listrik 24 jam," pungkasnya.
Terkait hal ini, Kepala Kantor PLN Unit Pelayanan KP Sangkulirang Akbar Maulana mengatakan memang benar terjadi kesepakatan antara pihak PLN dengan warga desa. "Akibat spare daya tidak memadai untuk suplai disana, sementara sampai waktu yang belum bisa ditentukan sampai ada penambahan daya baru bisa dilakukan pemasangan baru," kata Akbar
Untuk Sangkulirang dan Kaliorang terkait pemasangan baru sedang tutup karena spare daya tidak memadai, pihaknya telah bersurat kepada PLN Sangatta dan Bontang untuk penambahan daya. "Masih menunggu konfirmasi," jelas Akbar. (*)
Penulis : Faishal Alwan Yasir
Editor: Aspian Nur