Menurutnya sebelum terjadi longsor jalan masih bisa dilewati kendaraan tetapi sekarang sudah tertutup tanah dan kejadian tersebut telah terjadi berkali-kali. Terakhir, musibah yang sama terjadi Januari 2020 lalu, dimana runtuhan tanah hampir menimpa rumah miliknya. Warga menduga, pembangunan perumahan di sekitar pemukiman warga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan musibah longsor terjadi. "Sebenarnya saya sudah ngadu berkali-kali kepada pekerja lapangan. Namun kurang mendapat respon," papar Pawitri.
Hampir setiap hari suami Pawitri mengeruk parit agar aliran air berjalan lancar. Namun, usahanya seakan sia-sia karena selalu tertutup tumpukan tanah. "Kami berharap pemerintah ataupun pengembang bisa segera bertindak. Paling tidak bisa dikembalikan seperti semula agar musibah ini tidak terjadi lagi. Pengembang mengeruk saja, dikembalikan ke atas, tapi tanahnya turun lagi, ya begitu saja mereka kerjanya," ungkapnya.
H Fahroni, tokoh masyarakat setempat saat ditemui di lokasi mengatakan sudah seringkali membahas permasalahan ini dengan para pengembang. Bahkan, pihak Kelurahan juga turut serta dalam pembahasan tersebut. "Ini sebagai langkah antisipasi agar pengembang bisa bergerak cepat mengatasinya. Jangan sampai warga melapor dan menjadikan masalah ini sebagai suatu tindakan pidana," ucap Oni sapaan akrabnya.
Pengembang tidak konsisten dalam mengerjakannya, justru mereka semakin fokus untuk membangun perumahan. "Mereka hanya fokus membangun perumahan. Bukan kepada permasalahan yang ada di masyarakat, ya jadi seperti asal-asalan saja," sebutnya.
Oni berharap agar para pengembang bisa mendengar apa yang menjadi keluhan masyarakat, sehingga permasalahan ini bisa terselesaikan tanpa mendapat protes dari warga sekitar. "Kami mau mereka fokus menyelesaikan permasalahan ini. Jadi pembangunan perumahan yang mereka kerjakan tidak bermasalah dan berdampak negatif terhadap warga sekitar," jelas Oni. (*)
Penulis: Nancy
Editor: Aspian Nur