Meski telah dipasang alat pendeteksi tanah longsor, namun saat ini kondisinya sudah tidak terawat dan tidak jelas. “Walaupun sudah dimonitor BPBD (Badan Penanggulan Bencana Derah), tapi kalau hanya warga saja yang merawat agak susah dan tidak ada tanggung jawab. Seharusnya ada perawatan secara berkala,” harapnya.
Saat banjir tiga pecan lalu tidak memakan waktu yang lama. “Kebetulan Sungai Dama untuk dampak banjir yang memakan waktu memang tidak ada. Tapi kalau habis hujan deras ada di beberapa titik saja yang terdampak banjir. Tapi itu sebentar saja, beberapa jam akan surut kembali,” kata La Uje lagi.
Mengalirnya air dari perkampungan warga menuju Jembatan S terhambat di gorong-gorong. Hal tersebut yang menjadi penyebab utama banjir terjadi. “Selain itu, ada beberapa kontruksi yang terturun. Sehingga airnya terhambat, mengakibatkan banjir,” ungkapnya.
Menghadapi hal tersebut, pihaknya pun telah berusaha untuk berkomunikasi kepada pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Pekerjaan Rakyat (PUPR) mengenai kajian teknis di sana. “Kami sudah berusaha bicara. Apakah itu nanti bisa dimaksimalkan dengan yang ada atau harus ada tambahan gorong-gorong yang menuju ke arah sungai,” harap La Uje. (*)
Penulis: Sela Astuti
Editor: Aspian Nur