Untuk pelayanan SIM petugas telah melakukan siasat dengan cara membuka pendaftaran via daring alias online dengan jumlah kuota 150 pemohon di Polresta Samarinda dan 35-40 pemohon untuk setiap layanan SIM keliling dan gerai. "Pelayanan SIM masih terkendali tapi tempat pelayanan tes psikologi di kawasan Taman Samarendah mengalami lonjakan pemohon yang cukup padat," kata Erick.
Pihaknya tetap akan melakukan imbauan langsung kepada masyarakat untuk menghindari penumpukan orang. "Selain itu tes psikologi ada juga problem kesehatan yang membuat penumpukan. Seharusnya tes kesehatan itu di puskesmas terdekat, yang jadi masalah karena di situ juga ada klinik kesehatan dan masyarakat maunya sekali jalan dan akhirnya terjadi penumpukan," terangnya.
Untuk itu, antisipasi yang dilakukan petugas dengan memisahkan jarak antar pos pelayanan psikologi dan kesehatan, untuk antisipasi adanya kerumunan. Disinggung soal apakah petugas akan menambah pelayanan SIM keliling, Erick mengaku jika hal tersebut sangat sulit dilakukan karena minimnya fasilitas negara yang diterima. "Kalau soal itu, belum bisa karena terkendala fasilitas yang terbatas, karena kami hanya diberikan dua unit mobil oleh negara," terang Erick.
Kerumunan massa juga terjadi di sejumlah layanan Samsat baik di gedung induk Jalan KH Wahid Hasyim I, Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatan Samarinda Utara, maupun disejumlah layanan Samsat pembantu.
Untuk mencegah kerumunan, polisi juga telah melakukan koordinasi dengan pihak Dispenda, baik ditingkat provinsi maupun kota. Langkahnya, yakni dengan memberlakukan sistem buka tutup layanan untuk membatasi jumlah kuota massa. Selain itu, petugas juga akan menambahkan jumlah personel mereka diseluruh kantor Samsat dengan total 34 personel kepolisian. "Kami tempatkan setiap unit, selain untuk menghindari kerumunan, kami juga akan memberikan imbauan agar masyarakat paham kalau selama pandemi pajak kendaraan dibebaskan dari Februari sampai Agustus, bahkan diberikan diskon keringanan," sebut Erick. (*)
Penulis: Nancy
Editor: Aspian Nur