"Pantauan Mei-Juni hujannya lebih meningkat, Juli nanti menurun secara umum klimatologinya, secara jangka panjang, terkadang bisa berubah-ubah," kata Sutrisno kepada korankaltim.com Kamis (14/5/2020) tadi.
Perubahan cuaca sangatlah bersifat dinamis. Sutrisno juga menyinggung pada umumnya, prakiraan cuaca ekstrem bisa berubah secara tentatif terkhusus bagi wilayah Samarinda karena tak memiliki radar cuaca seperti yang ada di Balikpapan.
Potensi cuaca ekstrem, mengalami update informasi prakiraan yang akan dilakukan dari setengah hingga satu jam sebelumnya. "Tapi dari sana (Balikpapan) langsung memberi informasi ke kami ketika adanya perubahan ekstrim," jelasnya.
Untuk bulan Mei ini meleset dari prakiraan sebelumnya. Pada Januari silam, diperkirakan Mei saat ini cuaca terik akan melanda Samarinda, namun kenyataan justru sebaliknya. "Karena ada kemunduran musim," ungkap Sutrisno.
Adapun intensitas hujan yang terjadi selama sepekan ini, pantauan debit air di Waduk Benanga, Lempake, Samarinda Utara berada di level sedang.
Mengenai kemungkinan banjir bisa terjadi kapan saja, terlebih jika intesitas hujan di kawasan seperti kecamatan Samarinda Utara terus mengalami curah hujan sangat tinggi.
"Ditambah hujan tiga hari kemarin yang menambah debit air hingga 72 mili itu setara dengan hujan setengah bulan. Mirip-mirip tahun kemarin curah hujan dan pasti ada potensi banjir," paparnya.
Mengantisipasi hal itu, BMKG Samarinda akan terus melakukan update informasi prakiraan cuaca yang lebih intens kepada pihak-pihak terkait seperti BPBD Samarinda agar senantiasa waspada ketika curah hujan semakin tinggi.
"Update sehari 2 kali, kalau ada perubahan cuaca ekstrem maka akan langsung diinfokan ke pengambil kebijakan dan penanggulangan, seperti BPBD dan lain-lainnya," jelas Sutrisno. (*)
Penulis : Fairus
Editor: Aspian Nur