"Langkah tersebut diberlakukan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, terutama saat masyarakat ingin menyalurkan zakat fitrah di Masjid Raya Darussalam," tegas Abrari, Kamis (7/5/2020) siang.
Abrari melanjutkan, panitia hanya menyediakan satu kursi bagi warga yang ingin menyerahkan zakat fitrah. Jika terjadi antrian yang akhirnya ada penumpukan massa maka warga akan diatur oleh petugas yang sudah disiapkan agar tidak terjadi kerumunan
"Karena belum terlalu ramai, kami hanya menyediakan beberapa petugas untuk melayani masyarakat yang ingin menyalurkan zakat. Tentunya kursi sudah kami atur sesuai jarak aman. Kami juga telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk berjaga, jika suatu saat terjadi penumpukan massa," jelasnya
Pria yang sudah dua puluh tahun mengabdi di Masjid Raya Darussalam ini juga menambahkan biasanya masyarakat mulai ramai menyalurkan zakat fitrahnya menjelang hari raya idul fitri, terutama saat H-2 lebaran. Masjid Raya Darussalam sendiri juga menyediakan layanan salam jaringan (online) untuk penyaluran sedekah yaitu menggunakan metode Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
"Sekarang masih sepi.Biasanya H-2 Lebaran sampai dengan malam takbiran sudah mulai ramai. Untuk zakat melalui QRIS teknis seperti itu masih menimbulkan pro dan kontra karena semestinya zakat fitrah diberikan langsung oleh warga yang akan berzakat. Kalau lewat online seperti ini jatuhnya memang sedekah," imbuhnya.
Selain itu pengurus Yayasan Masjid Raya Darussalam Samarinda juga sudah mempersiapkan sarana dan prasarana untuk memudahkan masyarakat, sesuai standar operasional (SOP) yang ditetapkan pemerintah ketika harus langsung menyalurkan zakatnya.
"Kami siapkan tiga tenpat cuci tangan jadi yang berzakat, wajib cuci tangan" tutup Abrari. (*)
Penulis : Fairus
Editor: Aspian Nur