Hal ini diungkapkan Ketua Orgatrans Samarinda, Kamaryono saat dikonfirmasi Ahad (26/4/2020) tadi. Dikatakannya, setekah kalah persaingan dari jasa transportasi online, dengan kondisi saat ini pun mereka juga harus kalah. "Ya, seperti penyakit kondisi kami saat ini, sudah stadium empat," kata Kamaryono.
Penghasilan mereka sebelum pandemi ini berkisar Rp50-70 ribu per hari, tetapi setelah adanya pandemi ini, jangankan penghasilan untuk biaya BBM saja mereka sulit "Biasanya, kami keliling saat ini sepi, paling hanya ada satu atau dua orang saja, belum lagi setor ke pemilik angkot Rp 50 ribu," ungkapnya.
Dengan kondisi saat ini, pihaknya berharap pemerintah bisa memperhatikan kondisi para sopir angkot tersebut, seperti melibatkan dalam pembagian sembako.
Tetapi, ternyata dari pemerintah lebih memilih menggunakan jasa transportsi ojek online (ojol).
"Padahal kami ini juga terdampak, kalau ojol masih bisa bekerja, karena orderan makanan lewat aplikasi," ujarnya.
Kalau pemerintah melibatkan angkot, malah justru lebih efektif, karena lebih banyak mengangkut sembako. "Ya, lebih banyak angkot muatannya, dibandingkan ojol," tandasnya.
Tetapi, dirinya tak ingin berdiam diri saja, untuk memperjuangkan nasib para sopir angkot tersebut, sehingga, dirinya akan mengajukan permohonan ke Dinas Sosial (Dinsos) Samarinda agar jasa mereka ini bisa dimanfaatkan, dalam pendistribusian paket sembako pada Senin (27/4/2020) besok. "Kami akan ajukan, kalau tidak kasihan teman-teman tidak bisa makan keluarganya," jelas Kamaryono. (*)
Penulis: Nancy
Editor: Aspian Nur