"Gubernur belum menetapkan PSBB (Pembatasan Sosial Bersakala Besar), tapi untuk imbauan mudik sudah disampaikan kepada PNS, diharapkan masyarakat juga ikut melaksanakan. Tapi aturan kan semua mengacu kepada aturan Presiden. Larangan Presiden dan Dirjen Darat Kemenhub sudah dikeluarkan, aturan itu sudah jelas sebenarnya, berlaku secara nasional," ujar Hafid kepada korankaltim.com, Kamis (23/04/2020) pagi.
Dsihub sudah mengimbau masyarakat agar tidak bepergian, khususnya ke daerah yang ditetapkan sebagai daerah terjangkit dan akan terus dipantau pergerakan orang baik melalui terminal, pelabuhan, dan bandara.
"Kalau memang ada yang berangkat ya diatur untuk mengikuti protokol pencegahan penularan Covid-19," katanya.
Sebelum ada larangan mudik pun sedianya sudah terjadi penurunan penumpang di hampir semua moda angkutan berkisar 30 hingga 70 persen.
Frekuensi pemberangkatan juga menurun. Namun penutupan bandara, terminal atau pelabuhan belum dilakukan.
"Yang kami lakukan ini, di bandara kami minta perketat. Balikpapan (Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan SAMSS) sudah kurangi jam operasional. Dari 06.00 sampai jam 18.00 dulu kan sampai jam 23.00. Bandara lain juga sama. Pesawat juga hanya boleh mengangkut maksimal 50 persen dari total kapasitas. Bandara Kalimarau, di Berau sempat tutup, tapi sekarang dibuka lagi. Tapi ada pembatasan. Pelabuhhan atau terminal sampai sekarang belum ada yang ditutup, kemarin kami ada analisa data, semua penumpang turun, sehingga tanpa ditutup aktivitas sudah berkurang. Penurunan sekitar 30 sampai 40 persen," paparnya.
Penurunan penumpang Bandara Kalaimarau Berau, Maret dan April dibanding 2019 menurun 78 persen. Karena sempat ada penutupan. Sementara di Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto, penumpang turun 59 persen dibanding Maret 2019.
SAMSS Balikpapan, juga turun 67,72 persen. "Data yang kami ambil dari data Otband (Otoritas Bandara)," tukas Hafid.
Selain jumlah penumpang, penurunan juga terjadi pada frekuensi penerbangan. Di Kalimarau, terjadi penurunan hungga 70,75 persen rata-rata. APT Pranoto, turun 48,23 persen frekuensi penerbangan. Juga bandara SAMSS, turun 58,48 persen.
"Walaupun turun, penutupan bandara atau pelabuhan tidak bisa langsung dilakukan. Karena salah satunya mengangkut sampel dan hasil test Covid-19. Mengangkut logistik, juga benda pos. Jadi agak susah kalau bandara ditutup total. Banyak pertimbangannya. Begitu juga pelabuhan, Kota Samarinda sudah koordinasi dengan penguasaha kapal, agar tidak ada lagi penumpang lagi ke Samarinda, tapi kalau barang atau logistik tidak boleh dihalangi," pungkas Hafid. (*)
Penulis : Rusdi
Editor: Aspian Nur