"Jualan di pasar malam sudah dihentikan sementara, terus kami para pedagang mau makan apa, kalau tidak banting setir begini ya bisa kelaparan di rumah," ungkap Jumardin Kamis (16/4/2020) tadi saat ditemui di lapaknya yang terletak di pinggir jalan Kemakmuran.
Keputusannya menjual masker ini ternyata tepat, dagangan Ardi laris manis. Terlebih banyak warga yang mengeluhkan kesulitan membeli masker setelah covid-19 meluas di Samarinda sejak sebulan belakangan. Setiap pengendara yang melintas sekedar mampir atau pun membeli dagangannya.
“Hampir sebulan, 20 harian jualan masker. Alhamdulillah, ada saja yang mampir beli. Waktu awal-awal ya pertengahan maret itu sampai 500 buah masker habis terjual, harga 10 ribu-30 ribu, masker kain hasil dari jahitan konveksi tetangga, ada juga yang anti air maskernya kalau itu kirim dari Jawa," ucap Ardi sembari melayani pembeli.
Tidak hanya melayani para pembeli eceran, Ardi juga menerima pesanan jika pembeli memerlukan masker dalam jumlah banyak. Saat kondisi sekarang ini, dirinya mengaku tidak mengambil keuntungan semata, namun demi nilai kemanusiaan.
Selain Ardi, Setyono Wardani, warga Otto Iskandar Dinata juga ikut merasakan keuntungan berjualan masker. Dirinya rela meninggalkan profesi sebagai penjual buah untuk memanfaatkan momen pandemi covid-19. Dirinya juga mengaku sepekan lalu, para pedagang di sepanjang Jalan Kemakmuran ini pernah ditertibkan Satpol PP barang pedagang sempat disita oleh penegak perda saat itu.
"Berjualan masker dipinggir jalan ada resikonya. Salah satunya berhadapan dengan Satpol PP, Kalau dibilang salah ya kami salah berdagang di bahu jalan dan di atas trotoar seperti ini. Tapi pemerintah juga harus memikirkan juga nasib kami kalau tidak berdagang bagaimana. Mohon ada kebijakannya," harapnya. (*)
Penulis : Fairus
Editor: Aspian Nur