Alasannya, tak memiliki keluarga di Samarinda. "Ya, bisa saya keluar tapi tidak tahu mau ke mana, orang tua sudah meninggal," ucapnya saat ditemui di Rutan Klas II A Samarinda yang terletak di Jalan Wahid Hasyim II Samarinda Utara Sabtu (11/4/2020) hari ini.
Selain itu, kata Ambo, dia juga telah betah tinggal di Rutan karena banyak memiliki teman. Banyak pula hal positif yang bisa dilakukannya di dalam Rutan.
"Ya, sudah seperti rumah sendiri dan banyak kegiatannya, seperti olahraga, bantu-bantu angkat makanan dari teman yang dibesuk," ujar ayah satu anak tersebut.
"Kalau saya selama di sini biar sekali tidak ada yang jenguk, kalau istri sudah diambil orang, setelah saya masuk dua bulan dia minta cerai, karena gak tahan," sambungnya.
Ambo mengenang kala dia merantau bersama dengan sang istri ke Kota Tepian. Kemudian berjualan ikan di Pasar Segiri untuk nafkah keluarga.
"Iya, saya pakai narkoba karena lingkungannya seperti itu, jadi ditawarin teman," pungkasnya.
"Tetapi, dengan adanya asimilasi ini juga di blok berkurang, yang awalnya 40 orang jadi 33 orang, makanya agak luas sedikit," pungkasnya.
Kepala Rutan Klas II A Samarinda, Taufik Hidayat mengakui empat warga binaan menolak asimilasi karena alasan tak memiliki keluarga di Samarinda.
"Jadi, hanya 137 warga binaan yang ambil asimilasinya," ucapnya saat ditemui di Rutan Sabtu (11/4/2020) hari ini.
Namun, lanjut dia, tak menutup kemungkinan keempat orang ini bisa kembali diusulkan, dengan hak integritas.
"Nantinya kami akan mencari siapa yang akan menjamin mereka," pungkasnya.
Penulis: Nancy
Editor: M.Huldi