Ia mengaku telah mengunjungi workshopnya untuk melihat langsung proses pembuatan dan bahan yang digunakan, dengan tempat kerja yang minimalis tapi nyaman usaha dengan pekerja sebanyak 30 orang.
“Awalnya memang mereka fokus ke konveksi baju, kaos, jaket, tas, terpal, Nah disaat banyak orang kesusahan menjadi APD mereka lalu mencoba membantu produksi, walau agak kesulitan dengan bahan baku yang susah dicari dan mahal sekali” jelas Faisal kepada awak media.
Hal ini seiring pula dengan harapan Walikota Samarinda yang menginginkan agar pengusaha lokal dapat berperan membantu pemenuhan kebutuhan APD ini, sehingga kita tidak terlalu bergantung dengan pasokan dari daerah lain dan mengurangi kelangkaan yang menyebabkan harga menjadi tinggi.
Sementara itu, Memed panggilan akrab pimpinan Muharram Konveksi menjelaskan bahwa mereka sekarang mulai fokus membantu produksi APD terutama baju hazmat dan masker.
“Kami mampu memproduksi sekitar 20 baju hazmat dan 1.000 masker setiap harinya saat ini, mudahan dengan nanti bertambahnya mesin jahit kami bisa produksi lebih banyak lagi,” ujarnya
Memang produksi tidak hanya terpusat di Sambutan ini saja, tapi kami ada lagi tempat di Palaran dan Gg Dharma serta beberapa penjahit di rumah masing-masing yang diberdayakan untuk membantu jika ada produksi yang banyak.
“Memang hambatan utama adalah susahnya dan mahalnya pasokan bahan baku serta masih kekurangan mesin untuk produksi, saat ini kami baru mempunyai 40 mesin Jahit beragam type untuk mendukung usaha ini, ” katanya. (*/kk)