Ia juga mengaku, belum bisa menyampaikan, berapa jatah Kaltim atas alat uji untuk rapid test tersebut.
"Jumlah dapat berapa belum tahu. Kami terus komunikasikan termasuk kelengkapan lainnya," ungkapnya.
Seperti diketahui, Kaltim selayaknya daerah lain mengalami kekurangan Alat Pelindung Diri (APD), bagi para petugas medis di rumah sakit.
Informasi diperolehnya dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pengajuan APD untuk Kaltim, sudah tersedia.
"Katanya sudah ada. Pembagian ada 2, ada langsung oleh BNPB prioritas kepada daerah yang jumlah kasusnya besar. Lalu ada juga dari Kementerian. Kami masih tungggu, informasi dari pusat. Termasuk rapid test," tukasnya.
Dengan adanya 4 dokter yang meninggal, di seluruh Indonesia, ia mengaku Dinkes terus berupaya agar kelengkapan seperti APD, dapat segera tercukupi.
"Kami selalu telusuri distributor yang siap barangnya, mana yang ada langsung kami beli. Tapi kami libatkan selalu inspektorat sebagai pengawas internal pemerintah, semua sudah dilakukan. Upaya tracing ke distributor kami lakukan. Mana yang ada berapapun stoknya kami ambil," bebernya.
Kaltim sendiri, per Minggu 22 Maret 2020 tercatat total 9 kasus positif Corona. Kabar baiknya, sejak Sabtu tak ada penambahan kasus positif.
"Update per Minggu ada penambahan ODP (orang dalam pemantauan) 349. Tersebar di semua kabupaten/kota kecuali Kukar dan Bontang. ODP total menjadi 962, selesai pemantauan 339. Masih dalam proses 623. PDP (pasien dengan pengawasan) bertambah 1, di Berau. PDP total 49, negatif 20, positif 9 menunggu lab 20. Terkonfirmasi positif tidak bertambah," bebernya.
Penulis : Rusdianto
Editor: Desman Minang