Wali Kota Samarinda, Syaharie Jaang pun meresmikan langsung keberadaan museum yang dibangun sejak 2017 ini. Jaang menyebut keterlambatan pembukaan museum ini dikarenakan banyak hal-hal yang harus dilengkapi. Khususnya barang-barang antik bersejarah, dan sejumlah barang khas Samarinda, bahkan Kaltim.
"Harapan kita ini bisa jadi tempat belajar. Biar jadi kenangan terkait pembangunan kota dari zaman dulu," beber Jaang.
Jaang menyebut museum yang ada ini tentunya masih kurang. Kekurangan tersebut merupakan suatu kewajiban yang harusnya membuat instansi Pemkot Samarinda terus berbenah. Sehingga kedepannya koleksi dan fasilitas di muesum terus ditingkatkan. Ia pun menjamin tak ada retribusi untuk warga yang hendak berkunjung ke museum senilai Rp12 miliar ini.
"Tidak ada retribusi, Semua gratis," tegasnya.
Untik diketahui, Museum Samarinda berulang kali ditarik ulur pembukaannya. Pada Januari 2019 lalu, ada rencana untuk launching museum. Namun hal itu dibatalkan karena kabarnya koleksi museum belum juga lengkap. Hal ini dianggap wajar karena Samarinda berbeda dengan Kukar, yang penuh akan kisah sejarah kerajaan. Dibangun diatas lahan bekas SMP dan SMA Negeri 1 Samarinda, membuat museum ini tak lepas dari sorotan.
"Makanya saya minta ada maket khusus untuk SMP dan SMA Negeri 1. Mereka banyak cetak tokoh-tokoh di Samarinda. Ini penghargaan buat mereka," pungkas Wali Kota 2 periode itu.
Penulis: Permata S. Rahayu
Editor: Desman Minang