“Begitu dapat informasi ada temuan 200 karung itu saya langsung telpon Pak Hero (Kepala Dinas PUPR), karena ini masalah serius. Karena ini tanggung jawab kontraktor yang bikin gorong-gorong kenapa bisa lalai, jangan sampai sudah enak mendapatkan uang walikota yang disumpahi orang,” cecar Jaang.
Tak hanya itu, orang nomor satu di Samarinda ini juga menyinggung pengawas proyek yang dianggap tidak displin menjalankan tugasnya.
Ia pun meminta kepada Dinas PUPR untuk segera memberikan peringatan tertulis kepada kontraktor proyek yang telah lalai menuntaskan pekerjaannya.
“Memang dalam pengerjaan gorong-gorong itu diperlukan karung pasir untuk membendung saat pengerjaan pengecoran. Tapi kalau sudah selesai harusnya diangkat, kalau seperti ini kan pekerjanya lalai sudah lama dibiarkan akhirnya tertimbun. Makanya saya minta Pak Hero nanti langsung berikan surat peringatan, kalau perlu saya yang tanda tangan langsung,” urai Jaang.
Tak hanya itu, ia juga meminta kepada Dinas PUPR untuk mengecek kembali pengerjaan drainase-drainase lainnya agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali.
“Jangan sampai yang kita tahu pengerjaanya sudah selesai dan rapi dipermukaan namun ujungnya ada pengerjaan didalamnya yang tidak benar, ini kan termasuk tidak bertanggung jawab mau seenaknya saja tanpa membersihkan sisa pengerjaan. Ini bukan persoalan biaya tapi bayangkan saja berapa kerugian masyarakat yang tidak bisa dihitung saat terjadi banjir di kawasan ini,” tuturnya.
Setelah ada pembersihan dari tim hantu banyu, Jaang pun mengakui genangan banjir sudah berkurang, kecuali di beberapa tempat yang perlu peninjauan lebih lanjut untuk menemukan titik penyeberangan air.
“Tadi malam tidak banjir. Tinggal yang di depan bakso Awang Long saja masih ada air yang sangat serius. Nanti akan dicari titik cross (penyeberanga) nya,” pungkas Jaang. (ms)