Namun demikian, ia mengakui debit air dalam kondisi siaga. "Memang tidak dibuka, tapi tidak juga normal, (level) kuning. Memang kalau kuning ada peningkatan debit air. Tapi tidak dibuka, kalau sudah level merah baru ada kemungkinan naik (air)," jelasnya.
Seperti diketahui, kondisi Bendungan Benanga tak sepenuhnya dapat berfungsi menampung air. Data dari Balai Wilayah Sungai (BWS) menyebutkan, saat ini bendungan hanya bisa tampung 70 persen saja. Sisanya sedimen dan eceng.
"Kalau dari data malah penampungnya 10-20 persen saja. Karena luasnya dulu 1.300 hektare, sekarang 24 hektare saja, ya sisa 20 persen saja (yang bisa menampung air)," kata Sugeng.
Oleh karena itu, Pemkot Samarinda kini selalu waspada ketika hujan deras turun. Sayang, untuk penanganan bendungan tersebut bukanlah wewenang Pemkot Samarinda.
"Ini wewenang pusat, kami (Pemkot Samarinda) disuruh fasilitasi untuk sediakan tempat pembuangan lumpur. Kami sudah sediakan 20 hektare," ungkapnya.
Sebenarnya, kata Sugeng, masyarakat tak perlu khawatir terhadap kemungkinan meluapnya bendungan. Pasalnya, pada bendungan tersebut sudah terpasang alat deteksi dini dan sistem peringatan dini ketika air akan meluap.
"Sistem peringatan dini sudah ada, dan berfungsi. Jadi semacam alarm," tutupnya kemudian melanjutkan peninjauanbke lokasi titik banjir di kelurahan Bengkuring.
Penulis : Rusdi
Editor : Hendra