Menurutnya, fakta yang eksploitatif terhadap sumber daya yang tak dapat diperbarui. Mengingat bukan penghasil yang besar, tetapi pengekspor yang tinggi. Ini berdasarkan World Energy Council 2015 bahwa batubara Indonesia hanya 28 miliar ton atau 3,1 persen dari total cadangan dunia.
Makanya, dia meminta jangan terlena dengan harga batubara yang melambung dan justru beberapa belakangan tahun ini harga menurun tajam. Belum lagi, bagi hasil yang diterima dinilai tak adil serta dampak negatif lainnya.
Oleh karena itu, melalui pembangunan berkarakter ekstraktif, ia menyebut kembali pada kebijakan elit politik. “Ya, kalau menggandalkan sumber daya ekonomi dari itu, bukan menjadi negara maju justru keterbelakangan,” ucapnya.
Mantan Sekretaris Pemprov Kaltim menilai adanya ekspor produk bahan mentah kurang memberikan dampak besar terhadap perekonomian. Harusnya mulai berpikir memanfaatkan sesuatu yang tidak bisa diperbaharui, mulai dari hilirisasinya yang mesti diekspor itu bahan bakunya tetapi produknya.
Dia mencontohkan, seperti kawasan industri di Maloy yang bisa dikembangkan dan dimanfaatkan kelapa sawit dari sisi lain transformasi ekonomi mulai pertanian dan perkebunan. “Kalau itu dihidupkan dan sektor lain diharapkan bisa tumbuh dengan pesat, dari perkebunan ada lada dan kakao (cokelat,” ungkapnya. (sn318)