Faktor Ekonomi dan Pendidikan Jadi Biang Kerok KDRT
1 menit baca752 kali dibaca

SAMARINDA - Pemicu adanya kekerasan pada perempuan dan anak rata-rata disebabkan beberapa faktor.
Namun dari sekian itu faktor ekonomi dan faktor pendidikan yang paling mendominan terjadinya kasus kekerasan yang dialami oleh perempuan dan anak.
Kepala Dinas Pemerdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Samarinda, Nurul Mu’minayati mengatakan tingkat pengetahuan dan ekonomi menjadi hal yang paling mendasari ada kekerasan. “KDRT yang sering terjadi rata-rata faktor ekonomi. Istri yang menuntut banyak sehingga suami ringan tangan,” ucapnya.
Apalagi kata dia, Samarinda yang merupakan ibukota sekaligus sentral keluar masuknya penduduk menjadikan angka kekerasan mudah terjadi. “Tetapi kebanyakan yang melakukan kekerasan adalah warga pendatang, begitu kejadian kabur kembali ke daerah asalnya,” katanya.
Kendati begitu, dalam kurun waktu sejak 2016 hingga sekarang justru angka kekerasan perempuan dan anak menunjukkan penurunan.
Tahun 2016 setidaknya ada 423 kasus. Di tahun 2017 menurun 305 dan terakhir tahun ini per September sekitar 100an kasus yang ditangani.
Penurunan angka kekerasan ini karena imbas dari masyarakat yang mulai sadar. Belum lagi, sosialisasi yang terus-menerus seperti penyampaian hukuman bagi pelaku kekerasan gencar disampaikan ke masyarakat.
Seperti memberikan pemahaman kepada masyarakat. Namun, untuk kasus KDRT, ia menerangkan rata-rata semua berakhir rujuk karena pihaknya selalu memediasi kedua belah pihak. Kalau pun ada sampai yang bercerai jangan sampai anak-anak menjadi korban.
“Selama ini apabila ada kasus seperti itu kami selalu mendampingi dari segi psikologis. Dan menyampaikan setelah bercerai tidak ada perebutan anak kedua orangtua memiliki hak dan kewajiban yang sama,” pungkasnya. (sn318)










