Lemahnya budaya membaca karena kurangnya role model. Biasanya role model berasal dari orang terdekat atau yang bisa mengayomi, karena masa pertumbuhan anak-anak sangat berkembang.
“Di masa pertumbuhan seperti itu sangat mempengaruhi pola pikir anak-anak. Apalagi sekarang ini buku bacaan jarang ada yang update dimana isinya tidak sesuai,” ujarnya.
Menurutnya, letak geografis Kaltim juga ikut mempengaruhi. Sedangkan buku fisiknya lebih berat dibandingkan e-book. Contohnya diluar negeri kebanyakan buku terbit bergambar digital yang menggerakkan anak untuk membaca.
“Walaupun di Kaltim literatur bacaan tersedia. Tetapi kebanyakan tidak sesuai usai anak-anak,” terangnya.
Maka dari itu, ia menyarankan komunitas gerakan literasi harus dikembangkan. Pemerintah daerah disini harus berperan mendorong reformasi literasi serta taman bacaan. Dia menerangkan, bisa dikembangkan lewat kearifan lokal contohnya mengembangkan potensi penulis daerah untuk menggali cerita rakyat tentang kebudayaan.
“Kalau dikembangkan dan berpotensi serta dikemas dengan baik bisa menarik minat baca,” ujarnya. (sn318)