Masa yang melakukan aksi dijaga ketat aparat dari Kepolisian, Satpol PP hingga TNI. Sebagai ungkapan kekesalan, pedemo meneriakkan doa-doa, agar gubernur diberikan hidayah agar dibukakan pintu hatinya.
"Ya Allah timpakanlah azabmu, bukakanlah pintu hidayah bagi pemimpin kami," teriak para pedemo di saat bersamaan Awang Faroek melakukan pecah kendi, sebagai tanda dimulainya pembangunan.
Pengunjuk rasa menyebut para penguasa hanya berpihak kepada pemilik modal.
Ketua Forum Solidaritas Peduli Islamic Center Hairil Usman menjelaskan, tanpa sepengetahuan masyarakat sekitar, tiba-tiba muncul kembali dan akan membangun.
"Waktu mereka mau menamakan Syariah juga kami tidak diundang. Seharusnya ada transparansi. Katanya sudah dapat izin dari DSN (Dewan Syariah Nasional), Isya Allah ini hari saya bawa DSN ke sini, Komnas HAM juga sudah ke sini menyatakan menolak juga tidak sesuai dengan akidah, karena ini masjid yang katanya ikon Islam terbesar di Asia Tenggara, tapi ternyata mereka tidak mengindahkan. MUI pusat jelas melarang, mereka tidak akan setuju, nah ini dilanggar semua," katanya.
Ia mengatakan pihaknya memiliki bukti tertulis dari MUI da Komnas HAM semua berupa surat, yang intinya tidak membenarkan pembangunan hotel tersebut.
Meski terus berteriak, tak ada satupun dari pejabat yang hadir menanggapi .
"Karena tidak ditanggapi, kami akan laporkan Gubernur, Walikota dan semua yang terlibat dalam hotel ini ke KPK, ke Komnas HAM, karena kebijakan yang diambil oleh walikota itu melanggar kepentingan umum," pubgkasnya.
Penulis : Rusdi
Editor: Firman Hidayat