Meski sempat mendapatkan penolakan, Awang memastikan pembangunan hotel 10 lantai tersebut, sudah memenuhi syarat.
"Apa yang ditakutkan dari hotel syariah di dekat Islamic Center. Dengarkan baik-baik yang mau demo, ini yang ke-16 di Indonesia," ujarnya.
Di saat bersamaan saat Awang Faroek menyampaikan sambutannya, sejumlah massa yang berasal dari Forum Solidaritas Peduli Islamic Center melakukan unjuk rasa peolakan. Dalam orasinya, para pengunjuk rasa menolak pembangunan hotel yang dinilai melanggar syariat.
Menanggapu itu, Awang Faroek mengatakan dirinya tidak pernah mendapatkan penolakan secara resmi. "Sudah diundang berkali-kali untuk ikut rapat, tapi tidak hadir. Itu ada aktor intelektualnya, yang tidak suka dengan pembangunan," tukasnya.
Sementara iru, Pjs Wali Kota Samarinda, Zairin Zain mengatakan pihaknya menyambut baik atas pembangunan hotel syariah tersebut. Selain memberikan fasilitas terhadap pengembangan bisnis wisata syariah yang juga tengah menjadi tren, pembangunan hotel tersebut diharapkan dapat membantu pundi Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Pemkot Samarinda.
"Tapi kami minta pengelola untuk membuka kesempatan untuk tenaga kerja lokal untuk masuk. Yang pasti juga harus menjalankan operasional sesuai sebutan hotel Syariah," ucapnya.
Sementara itu, Vice Presdent Marketing Prime Plaza Hotel And Resort Yusak Anshori memastikan, bahwa 60 persen tenaga kerja akan diambil dari sumber daya manusia lokal.
"Karena kan akan lebih efisien juga bagi kami, daripada harus mendatangkan tenaga kerja dari luar," ungkapnya.
Penulis: Rusdi
Editor: Firman Hidayat