Apalagi jika Bandara APT Pranoto di operasionalkan. Tentunya bisa menjadi daya tarik pengunjung untuk melihat lokasi tambang batubara ditambah jika perusahaan dan pemerintah bekerjasama hal ini bisa menjadi terobosan terbaru.
Kata dia, sebagai contoh pengunjung yang datang dengan membayar misalnya USD 10. Pengunjung diberikan bibit pohon dan ada nama, tentu mereka akan antusias sekali. “Seperti di Australia disana lokasi tambang emasnya dijadikan destinasi wisata,” terangnya.
Namun diakuinya, yang menjadi persoalan dan kendala dalam pengembangan wisata di Kaltim yakni akses atau jalur menuju lokasi wisata yang belum memadai. Ditambahlagi tingkat kemahalan, sebab berkunjung ke Samarinda maupun kabupaten dilingkup Kaltim terbilang cukup mahal dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia.
“Ini salah satu jadi pertimbangan wisatawan yang datang ke Samarinda, karena tingkat kemahalan tersebut. Belum lagi, masalah infrastruktur sehingga ini perlu dipikirkan bersama –sama dan adanya bandara di Samarinda tentunya menjadi satu keunggulan dan kesempatan untuk menjual maupun mempromosikan wisata yang ada,” jelasnya.
Di sisi lain, dirinya juga optimis dengan banyaknya wisata yang sudah ada sekarang ini. Semisal Festival Erau di Kutai Kartanegera dan Festival Mahakam di Samarinda bisa menjadi wisata yang menjanjikan dan menyedot pengunjung lokal maupun luar daerah untuk menyaksikan. “Kuncinya di Sumber Daya Manusia (SDM) dan terpentingnya lagi komitmen dari kepala daerah dalam memberikan perhatian khusus dalam perkembangan wisata,” harap Hetifah. (sn318)