“Ini juga dalam rangka hari bebas sampah. Kami upayakan berjalan selama tiga bulan mendatang,” terangnya kemarin.
Sebenarnya kegiatan pungut sampah di polder bukanlah hal yang baru. Tahun lalu DLH juga pernah menyelenggarakan hal serupa menggandeng warga sekitar dan LSM. Namun baru tahun ini menggandeng kalangan mahasiswa. Pihaknya pun menyambut baik. “Kami senang ada mahasiswa yang mau terlibat. Ini menandakan mahasiswa yang kuliah di sini juga punya kepedulian dengan kota,” tambahnya.
Kantong plastik dan massa dengan sarung tangan menjadi pemandangan di sepanjang polder. Semua sisi disisir. Mulai polder kecil yang menjadi tempat penampungan air sementara, sampai ke kolam besar. Jumlah pegawai OPD yang terlibat diperkirakan mencapai 500 orang. Mulai dari DLH, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), dinas perumahan dan pemukiman (Perkim), kelurahan dan kecamatan. “Untuk pekerja DKP ada 150 orang. Kalau jumlah keseluruhan yang ikut pungut sampah, kayaknya 500 orang,” sambungnya.
Yama, sapaan akrabnya membeber sampah yang dipungut langsung dibawa menuju Temat Pembuangan Akhir (TPA) menggunakan dump truck. Sekitar dua dump trcuk pun sudah disiapkan. Diperkirakan volume sampah yang terangkut tidak mencapai satu ton. Namun bagi Yama hal ini cukup untuk membuat sekeliling polder terlibat asri dan lebih bersih. “Cuma yang di depan venue anggar tidak maksimal. Ya, karena waktunya mepet dan beberapa pegawai juga masih ada kerjaan,” tutup Yama.
Muhammad Wawan Adisaputra, Ketua Himpunan Mahasiswa Biologi FKIP Unmul mengaku baru pertama kali mengikuti aksi pungut sampah. Yang mengejutkan ia menemukan ikan yang mati saking tercemarnya air polder.
“Ada tiga ikan sapu-sapu, satu mati duanya seperti mau mati,” katanya.
Hal ini membuatnya tekejut. Pasalnya habitat ikan sapu-sapu adalah lingkungan yang kotor. “Ini sudah kotor terus ikannya mati. Artinya kekotoran di polder sudah sangat parah,” singgungnya.
Wawan juga menambahkan jumlah mahasiwa yang dilibatkan lebih dari 50 orang. Dia juga menambahkan mahasiswa mau bekerja sama dengan pemerintah karena sedikit yang peduli dengan kebersihan. “Kalau bukan kita ya siapa lagi yang peduli dengan kebersihan ini,” tutup wawan.(rs)