Tak heran, anggaran sensor saja sudah memakan anggaran APBD Rp 3 miliar, sedangkan lampu hias dan penerangan Rp 9,9 miliar. Sehingga, wajar jika tidak dianggarkan perawatan tahun ini. “Untuk perawatan mungkin bisa dianggarkan di APBD perubahan,” terang dia.
Kendati demikian, pada APBDP sangat memadai untuk perawatan saja. Sedangkan perawatan fisik secara menyeluruh kemungkinan belum bisa. “Saya rasa bisa saja dianggarkan pada 2019 untuk keseluruhan. Tapi tahun depan akan diprioritaskan,” beber politikus PAN ini. “Lagi pula Mahkota II kan baru boleh dilintasi pada akhir tahun. Sedangkan waktu ideal perawatan setelah satu tahun, kemudian setiap lima tahun sekali,” pungkas Jasno.
Sedangkan untuk Flyover Air Hitam, Jasno menilai secara fisik konstruksinya baik saja. Berdasarkan pantauan dan hasil hearing bersama DPUPR, untuk setahun ke depan masih memadai dilintasi. “Jika memadai tahun depan akan dilakukan perawatan. Tergantung kondisi di lapangan, kalau memang harus maka perlu diprioritaskan juga,” tambah dia.
Sebelumnya, Kepala DPUPR Samarinda Hero Mardanus menyebut, sebagian besar jembatan di Kota Tepian mengalami nasib demikian. “Tak melulu karena anggaran, namun pengawasan jembatan tidak bisa dilakukan setiap tahun,” ucap dia.
Kalau pun nantinya ditemukan kendala atau kerusakan, pihaknya akan mengecek lebih dulu. Sebab, perawatan jembatan cakupannya cukup banyak. Mulai dari jalan, konstruksi, dekorasi, penerangan dan sebagainya. “Jadi apa dulu yang mau dirawat. Kalau jembatan biasanya paling banyak menyangkut jalan. Kalau jalan bisa diperbaiki, kami ada anggarannya,” ungkapnya.
Apabila berkaitan dengan konstruksi, anggaran baru bisa diupayakan tahun depan. Hero mengatakan, anggaran perawatan tidak langsung turun ketika usulan diserahkan. Makanya, pihaknya berencana mengusulkan perawatan khusus Jembatan Mahkota II tahun depan. “Pekerjaan baru selesai. Tidak mungkin mengganggarkan sekarang,” sebut dia.
Sementara itu, konsultan pengawas Jembatan Mahkota II Taufiq Rinaldi, menjelaskan, biasanya perawatan dilakukan setelah setahun jembatan resmi dilintasi. Berkaca pada mahkota II, maka anggaran perawatan bisa diusulkan tahun ini. Begitu pula untuk perawatan Flyover Air Hitam. Namun sayang, dia tidak mengetahui berapa anggaran yang perlu disediakan. “Saya tidak bisa memastikan,” kata dia.
“Semua bergantung dari perbaikan yang dilakukan. Tidak bisa kami hitung berapa besar pasti nilai perawatannya. Ada persentasenya,” jelas Taufiq.
Mengenai masa pemeliharaan jembatan, ada rentang waktu tertentu. Setelah tahun pertama, perbaikan dilanjutkan kembali dua tahun berikutnya. Selepas itu, perawatan dilakukan per lima tahun sekali.
“Tetapi makin lama angka perawatan akan makin besar. Pastinya tetap dilihat lagi kondisi komponen jembatan yang perlu mendapat perbaikan,” tutup dia. (rs)