Namun demikian, ia menyebut hal tersebut tidak membuat pantauan mudik jadi longgar. Ia memaparkan, posko mudik yang terintegrasi bersama pihak terkait sudah berdiri di titik yang sudah ditentukan.
Sementara itu, moda angkutang laut, menurut Salman masih menjadi tren tertinggi di Kaltim. Disusul dengan moda udara dan darat.
“Kalo laut, Rabu (21/6) hari ini puncaknya, karena mereka kan dari laut nyeberang hampir satu hari 17-18 jam. Setelah itu naik lagi darat, biasa mereka mengejar lebaran malam takbiran di kampung halaman,” ujarnya.
Pemudik yang menggunakan moda laut, kata Salman didominasi pemudik dengan tujuan Pare-Pare, Makasar dan sekitarnya. “Tapi kalau udara itu puncaknya H-2, laporan Angkasa Pura begitu,” paparnya.
Khusus moda angkutan udara, ia berharap tahun depan, dengan terselesaikannya pembangunan Bandara Aji Pangeran Tumengung (APT) Pranoto, diharapkan pemudik sudah bisa berangkat dari Samarinda.
Meski secara umum jumlahnya meningkat, namun di Kota Samarinda kata Salman khusus moda angkutan laut mengalami penurunan. “Di Bontang juga ada kapal tujuan Pare-pare, maka orang Bontang dan Kutim ke tarik ke sana tidak ke Samarinda lagi,” ungkapnya. (rs)