Setelah alat kelengkapan dewan menggabungkan PKB dengan dua parpol lain yang dinamakan Fraksi PKB Persatuan Perjuangan, Basri bersiap untuk terjun lagi ke perhelatan kepala daerah. Meski sering ia katakan bahwa politik itu dinamis, termasuk saat disinggung soal pasangan calonnya. “Kalau saya kepingin orang yang mendapimngi saya itu punya chemistry dengan saya. Artinya tidak sombong dan tidak memilih-milih, menyamakan semua, dan tidak terkotak-kotak,” sebut Basri.
Selain itu, pasangannya nanti perlu memiliki karakter jiwa yang tenang. Apakah itu berasal dari birokrat, pengusaha, atau lainnya Basri tak masalah. Yang jelas, orang tersebut harus baik, dan santun. Soal pertemuan dengan beberapa partai politik lainnya, Basri menyebut itu hal biasa. “Komunikasi politik itu biasa, saya berteman dekat dengan anggota dewan Bontang. Bahkan di luar dewan pun, saya banyak komunikasi soal politik,” imbuhnya.
Apakah Basri akan berpasangan lagi dengan Neni Moerniaeni dan tetap menjadi wakilnya? Basri menjawab politik itu dinamis. Namun, sampai saat ini, orang-orang yang mendukungnya ingin ia mencalonkan sebagai wali kota, bukan menjadi wakil lagi. Dan dukungan itu bukan hanya dari PKB, tetapi dari partai lain juga. “Partainya tak bisa saya sebut,” ujarnya.
Ia pun tak menyangkal jika sempat ditawari salah satu parpol untuk tetap berpasangan dengan Neni.
Basri bersyukur masih banyak yang menginginkan dirinya menjadi wali kota. “Kalau orang lain bisa, masa saya tidak bisa. Saya hanya ingin memberi semangat dan menginspirasi yang lain,” tutupnya. Pada AKD DPRD Bontang 2019-2024, PKB gabung fraksi dengan PDI Perjuangan dan PPP. (*)
Penulis. Cholisoh
Editor: Aspian Nur