Guardiola larut dalam momen tersebut saat ia mengangkat tinjunya dengan gembira ke arah para pendukung City yang bersorak-sorai, makna kemenangan itu semakin ditekankan oleh pelukan erat yang ia berikan kepada para pemain dan staf pelatihnya setelah peluit akhir berbunyi.
“Saya ingin mendapat kartu kuning lagi dan itulah mengapa saya melakukannya,” canda Guardiola saat ditanya tentang perayaannya. "Jika saya tidak bisa merayakan di momen seperti ini melawan tim seperti Arsenal dan cara kami bermain, emosi saya terkait dengan cara kami bermain,” ungkapnya.
“Saya bukan kecerdasan buatan, saya manusia, dan saya ingin merayakan. Itu bukan untuk menunjukkan ketidakhormatan kepada Arsenal atau para pendukung lain, saya hanya merayakan bersama orang-orang saya. Dan ketika saya merasakannya, saya mengungkapkannya,” tegas Guardiola.
Ini adalah panggung ideal bagi kedua tim untuk membuktikan kemampuan mengingat baik The Citizens maupun The Gunners saat ini berada diposisi kedua dan pertama klasemen sementara Liga Inggris.
Dan City menggagalkan upaya Arsenal meraih quadruple bersejarah dengan kemenangan yang pantas di final Carabao Cup di Wembley. Nico O'Reilly mencetak dua gol lewat dua kali sundulan dalam empat menit di babak kedua, membuat pelatih Arsenal Mikel Arteta bakal menyesali keputusannya untuk tetap mempercayai kiper Kepa Arrizabalaga dalam kompetisi ini alih-alih kiper utama David Raya karena justru menjadi bumerang.
Kepa memberikan gol pertama bagi City pada menit ke-60 ketika ia gagal mengantisipasi umpan silang dari Rayan Cherki, sehingga O'Reilly dapat menyambar bola dengan sundulan.
O'Reilly dengan cepat menggandakan keunggulan City, tiba di tiang jauh untuk menyundul umpan silang Matheus Nunes ke gawang menit ke-64, hal mana yang mebuat Guardiola berlari di sepanjang garis samping lapangan untuk merayakannya.
Sebaliknya, Arsenal tampak kecewa karena mereka kehilangan kesempatan untuk meraih trofi pertama sejak Piala FA pada 2020, akibat penampilan yang kurang berani dan minim ambisi menyerang hingga terlambat.
Misi City dan Guardiola bukan sekadar memenangkan Piala EFL. Tujuannya adalah menampilkan performa dominan yang mungkin menanamkan keraguan di benak Arsenal, yang saat ini memimpin sembilan poin di klasemen Liga Premier.
Kemenangan City ini membuat Guardiola menjadi manajer pertama yang memenangkan EFL Cup lima kali, sementara Arteta dan Arsenal harus menunggu untuk meraih trofi pertama mereka sejak Piala FA pada 2020.
Secara keseluruhan ini adalah trofi besar ke-16 Guardiola bersama City dan meski spekulasi tentang masa depannya setelah musim ini masih beredar, cara timnya bermain serta antusiasme dan semangat sang pelatih asal Catalan itu menunjukkan ia masih ingin meraih lebih banyak kesuksesan. “Saya sangat senang karena Mikel [Arteta] telah menciptakan tim yang hampir tak terkalahkan. Gelar Carabao Cup kelima dalam 10 tahun bukanlah hal yang buruk. Setiap kali Anda memenangkan gelar, hal itu terlihat lebih sulit daripada di masa lalu. Ini benar-benar sulit karena banyak alasan,” sebut Guardiola.
Sementara Arteta bersiap menghadapi perjuangan untuk bangkit dari kemunduran ini dan fokus pada tiga trofi yaitu Liga Inggris, FA Cup dan Liga Champions. “Kami telah menjalani delapan bulan yang luar biasa bersama tim ini. Hasil ini sungguh mengecewakan. Kami harus memanfaatkan semangat juang itu selama dua bulan ke depan untuk meraih musim yang luar biasa,” ujar Arteta yang merupakan rekan senegara Guardiola, dari Spanyol.
"Ini menyakitkan, terutama bagi para pemain dan pendukung kami, karena kami benar-benar ingin mengangkat trofi itu. Dua babak yang sangat berbeda, terutama babak pertama ketika saya pikir kami lebih baik dari mereka dan memiliki dua peluang terbaik dalam pertandingan. Kami tidak memanfaatkannya. Pujian untuk mereka atas apa yang telah mereka lakukan. Hari yang sangat menyedihkan,” ungkap Arteta kepada BBC Radio 5 Live.
Editor: Aspian Nur