Fokus para fans bukan pada performa tim Liga Inggris itu melainkan pada pernyataan sang pemain tentang efek hujan deras pada krim wajahnya, sebuah topik yang menggeser analisis biasa tentang performa tim dan menyoroti budaya sepak bola Inggris.
Pada pertandingan di City Ground, Forest yang ditangani pelatih Vítor Pereira menyia-nyiakan beberapa peluang mencetak gol yang jelas dan akhirnya kalah dengan selisih satu gol yang dicetak oleh Cho Gue-sung. Kekalahan ini berarti Nottingham Forest harus melakukan comeback di leg kedua di Denmark jika mereka ingin melaju di kompetisi Eropa.
Setelah pertandingan itu, muncullah penjelasan yang menggelikan. Hutchinson, berbicara kepada TNT Sports, mengakui rasa frustrasinya, menekankan kondisi cuaca hujan yang memiliki dampak yang tak terduga. “Ya, saya benar-benar tidak bisa melihat dengan jelas. Krim wajah saya menetes. Kondisinya tidak ideal,” ucap Omari.
Reaksi dari para penggemar sangat cepat. Puluhan pesan yang diposting setelah wawancara tersebut. “Kondisinya tidak ideal, tetapi itu bukan alasan. Kami memiliki beberapa peluang di babak pertama dan kedua,” ucap Omari lagi.
Pemain tersebut juga mengklarifikasi tim telah melatih penyelesaian akhir: “Kami telah berlatih menembak dalam latihan tapi itu bukan hari kami. Kami berharap dapat memperbaikinya pada leg kedua,” harapnya.
Penyebutan krim wajah yang aneh itu memicu perpecahan di antara para penggemar, beberapa diantaranya menggambarkan penjelasan tersebut sebagai tidak pantas dan bahkan "menyedihkan".
Komentar Omari sendiri terjadi pada saat yang krusial bagi Forest yang terus berjuang untuk menghindari degradasi dari Liga Premier. Mereka saat ini berada di posisi ke-17 dengan 28 poin dan juga menghadapi penyelesaian pertandingan Eropa mereka dalam waktu dekat. Setelah leg kedua babak 16 besar melawan FC Midtjylland , Nottingham Forest akan menghadapi Fulham di liga dan kemudian bertandang ke Tottenham untuk pertandingan penting lainnya.
“Setiap pertandingan yang kami mainkan sangat penting. Dan ya kami memiliki kepercayaan diri penuh, kami berlatih dengan baik . Pelatih telah memberi kami banyak kepercayaan diri. Dan para penggemar juga, mereka selalu bersama kami, jadi kami hanya ingin semuanya berjalan dengan baik dan memperbaiki kesalahan kami,” kata Omari lagi.
Lahir di Redhill, Inggris, tetapi memiliki akar Jamaika, Omari adalah gelandang berusia 22 tahun yang berasal dari akademi muda Arsenal. Ia kemudian pindah ke Chelsea , hanya bermain dua pertandingan Liga Premier sebelum dipinjamkan ke Ipswich Town. Disana ia tampil sebanyak 82 kali, mencetak 14 gol dan memberikan delapan assist. Setelah itu, Forest mengincarnya dan ia telah tampil sebanyak 27 kali, mencetak satu gol dan memberikan enam assist, menurut data yang diberikan oleh situs web spesialis Transfermarkt
Editor: Aspian Nur