Petenis yang bermain dihadapan pendukungnya sendiri mengukuhkan dominasinya di ajang eksklusif ini dan mempertahankan rekor tak terkalahkannya sejak final 2013 melawan Novak Djokovic.
Suasana di Inalpi Arena bagaikan sebuah peristiwa bersejarah, dengan 13.000 kursi terisi penuh. Rivalitas antara Sinner dan Alcaraz, yang telah berlangsung 15 kali dengan rekor sepuluh kemenangan bagi Alcaraz, petenis Spanyol tersebut dan tampaknya akan menjadi satu yang paling signifikan dalam dunia tenis saat ini.
Bahkan menurut data Opta ini adalah pertama kalinya kedua petenis yang sama berlaga di keempat final Grand Slam dan final ATP Finals dalam satu musim, menempatkan mereka di antara rivalitas elite bersama rivalitas legendaris seperti Lendl-McEnroe atau Federer-Nadal.
Pertandingan diwarnai ketegangan dan keseimbangan. Sinner, meskipun dikenal sebagai pemain yang dingin, menunjukkan keakraban dengan penonton yang mendukungnya tanpa syarat.
Publik Italia, yang menyadari kesempatan untuk melihat petenis senegara dinobatkan sebagai juara untuk kedua kalinya, menghujaninya dengan spanduk dan tepuk tangan, sementara Alcaraz, petenis nomor satu dunia, berusaha menahan tekanan dan mencari alternatif taktik untuk membongkar pertahanan kokoh petenis Italia itu hingga akhirnya tampil sebagai juara.
Hadiah untuk juara ATP Finals ini mencapai USD 5.071.000, setara dengan Rp85 Miliar, sebuah rekor yang melampaui hadiah yang diraih Sinner sendiri di edisi sebelumnya, USD 4.881.110, setara dengan Rp81,5 Miliar. Pencapaian ini mengukuhkan posisi petenis Italia ini sebagai satu tokoh terkemuka di dunia tenis saat ini.
Editor: Aspian Nur