Trofi yang sudah dekat ke Kota London Utara akhirnya pergi. Dalam drama adu penalty tanpa perpanjangan waktu, Les Parisiens unggul 4-3 atas The Lily Whites.
Kapten PSG Vitinha gagal melakukan penalty namun hanya sekali, karena kubu Tottenham ada dua pemain yang gagal, Van de Ven dan Mathys Tel. Comeback yang mengesankan PSG dan kemenangan lewat adu penalti menghentikan klub dari Premier League itu menjadi tim pertama pemenang Liga Europa yang
“Saya pikir kami bermain sangat baik melawan salah satu tim terbaik di dunia, mungkin yang terbaik saat ini,” kata Frank, yang menggantikan Ange Postecoglou sebagai manajer pada musim panas ini.
"Kami berhasil mengendalikan mereka sesuai rencana selama 80 menit. Namun momentum berubah setelah gol 2-1. Tim dan suporter memiliki banyak hal untuk dibanggakan. Babak pertama hampir sempurna dan jelas tendangan bebas kami sangat baik dan kami sangat berbahaya. Pada beberapa momen, saya pikir kami menunjukkan bisa bermain melawan tim mana pun di dunia,” ucap Frank lagi.
Di kubu PSG, raksasa Ligue 1 Perancis itu siap memulai musim 2025-26 dengan percaya diri setelah sebelumnya kalah di final Piala Dunia Antarklub dari Chelsea sebulan lalu.
PSG bahkan berpeluang menorehkan sejarah "sextet", sebuah prestasi yang hanya dicapai oleh Barçelona asuhan Pep Guardiola tahun 2009 dan Bayern München asuhan Hansi Flick tahun 2020, tinggal meraih trofi dari ajang Piala Super Prancis (Januari 2026) dan final Piala Interkontinental (Desember 2026). Pelatih Luis Enrique harus membuktikan mulai sekarang kalau timnya dapat mempertahankan dominasi di Eropa.
Laga menghadapi Tottenham dini hari tadi juga jadi pertandingan yang sangat istimewa bagi Ousmane Dembélé, Désiré Doué, Kvicha Kvaratskhelia, Vitinha dan pemain lain yang mana sembilan pemain PSG masuk nominasi Ballon d'Or.
Sorotan untuk PSG ada pada kiper utama mereka, Lucas Chevalier. Diketahui, Luis Enrique membuat keputusan yang sangat tegas dan mengejutkan dengan mengganti Gianluigi Donnarumma yang selalu jadi pilihan utama dengan Chevalier, saat juara Eropa ini beralih dari gaya kiper tradisional.
Meskipun penampilannya yang gemilang musim lalu saat PSG memenangkan Liga Champions, kiper Italia itu dicoret dari skuad untuk pertandingan Super Cup melawan Tottenham dan kini tersedia untuk transfer dengan sisa kontrak satu tahun.
Chevalier, yang didatangkan dari Lille awal pekan ini, diberikan posisi kiper utama dan ternyata berhasil membantu PSG dengan menahan tendangan penalty ketiga Tottenham yang dieksekusi Micky van de Ven.
"Tottenham bermain hebat, mereka lebih kuat dari kami. Saya tidak tahu apakah ini hasil yang adil, tapi begitulah sepak bola," ujar Enrique dikutip dari situs resmi UEFA.
"Kami masih harus meningkatkan kualitas tim. Kami memiliki kemampuan untuk berjuang sampai akhir, tapi kami masih bisa meningkatkan kualitas tim," imbuhnya.
Enrique memuji kiper Lucas Chevalier. “Lucas Chevalier luar biasa, dan saya sangat senang untuknya," ucap mantan pelatih Barcelona itu.
Kemenangan ini menjadi perayaan yang sempurna bagi PSG, yang merayakan ulang tahun klub ke-55 sehari sebelumnya. PSG menambah koleksi trofi mereka menjadi 56, sekaligus menjadi trofi Eropa ketiga setelah meraih Piala Winners pada 1996 dan Liga Champions 2025.
Ini juga menjadi gelar kelima setelah sebelumnya ada Trophee des Champions, Ligue 1, Coupe de France dan Liga Champions.
Bagi Enrique ini merupakan kedua kalinya ia mengukir catatan fenomenal tersebut. Saat masih menangani Barcelona, Luis Enrique pernah membawa Blaugrana juara LaLiga, Copa del Rey, Liga Champions, Piala Super UEFA dan Piala Dunia Antarklub pada tahun 2015.
Ia menjadi pelatih kelima setelah Carlo Ancelotti, Pep Guardiola, Louis van Gaal dan Sir Alex Ferguson, yang memenangkan Piala Super Eropa dengan dua tim berbeda.
"Memenangkan trofi ke-5 di tahun ini sungguh fantastis. Yang lebih penting kami menyaksikan tekad kolektif tim muda ini, yang terus berjuang demi jersey ini dalam segala situasi," ucap Enrique. "Kami sangat bangga bahwa Paris Saint-Germain mewakili Paris dan Prancis di panggung Eropa dan dunia, berdasarkan nilai-nilai kerja sama tim dan mengejar keunggulan," pungkasnya.
Editor: Aspian Nur