Laga Spanyol kontra Perancis disebut-sebut sebagai pertarungan antara para bintang muda, namun jelas kalau kemenangan Paris Saint-Germain (PSG) pada ajang Liga Champions di Munich pekan lalu telah menambah beban bagi tim Perancis karena pemain bintang PSG Doué dan Dembélé nyatanya tampil mengecewakan pada semi final.
Ini merupakan pertandingan dengan skor tertinggi, sembila gol, dalam sejarah singkat Nations League. “Itu adalah pertandingan yang hebat. Pada akhirnya laga ini sedikit nyaris berakhir imbang, tetapi kami bermain sangat baik dan saya rasa kami pantas menang,” ujar Yamal usai pertandingan.
Nico Williams membuka keunggulan pada menit ke-22 setelah Yamal memberikan umpan kepada Mikel Oyarzabal, yang melewati dua pemain bertahan dan memberikan umpan lambung untuk ditembakkan oleh Williams ke gawang.
Mikel Merino, pahlawan saat terakhir kali Spanyol bermain di Stuttgart, membuat skor menjadi 2-0 tiga menit kemudian setelah melakukan umpan satu-dua dengan Oyarzabal.
Tendangan Théo Hernandez membentur mistar gawang dan Spanyol membutuhkan penjaga gawang Unai Simon untuk menggagalkan peluang Doué, kemudian Mbappé dan Dembélé.
Namun Spanyol terlihat mampu mencetak gol kapan saja. Bek Real Madrid Dean Huijsen, mengira sudah mencetak gol spektakuler setelah melakukan tendangan bebas yang brilian, namun gol tersebut dianulir karena offside. Ini merupakan pertandingan ketiga bagi pemain berusia 20 tahun ini untuk Spanyol.
Adrien Rabiot mendapatkan penalti karena melakukan pelanggaran terhadap Yamal, yang kemudian mencetak gol dari titik putih pada menit ke-54. Pedri mencetak gol semenit setelahnya, menerima umpan Williams dengan sentuhan pertamanya dan mencungkil bola melewati Mike Maignan yang kebingungan dengan sentuhan berikutnya.
Pelanggaran Pedro Porro memberi Mbappé peluang dari titik penalti, tetapi Yamal menjawabnya dengan menceploskan bola melewati Maignan untuk skor 5-1.
Kylian Mbappé mencetak gol yang terlihat seperti sebuah hiburan dari sebuah tendangan penalti saat Perancis tertinggal 4-0. Pemain pengganti Rayan Cherki mencetak gol di menit-menit akhir dalam debutnya untuk Perancis setelah Yamal mencetak gol kelima Spanyol, kemudian pemain bertahan Spanyol Daniel Vivian melakukan gol bunuh diri dan Cherki memberi umpan kepada pemain pengganti lainnya, Randal Kolo Muani, pada waktu tambahan dan pada akhirnya Perancis nyaris saja melakukan kebangkitan yang nyatanya tidak terjadi.
“Saya selalu mengatakannya kepada ibu saya, saya mencoba untuk memberikan segalanya,” kata Yamal lagi kepada Teledeporte. “Itulah yang memotivasi saya untuk bermain sepak bola, mengapa saya bangun di pagi hari. Perancis memiliki pemain kelas dunia. Skor setelah 60 menit sangat besar, tetapi mereka memiliki pemain yang membuat Anda menderita. Kami (Spanyol dan Portugal) adalah dua tim yang sangat bagus dengan para pemain kelas dunia,” tegas pemain Barcelona itu.
Spanyol hampir tidak terkalahkan di bawah asuhan Luis de la Fuente, hanya kalah satu kali dalam lebih dari dua tahun, sebuah catatan yang membantu mereka membawa pulang gelar juara Piala Eropa tahun lalu dengan kemenangan atas Inggris di partai final. Kunci dari sistem De la Fuente adalah kedua pemain sayapnya Nico Williams dan Yamal
Selain jadi yang pertama menampilkan sembilan gol di UEFA Nations League, pertandingan ini sekaligus merupakan pertama kalinya Perancis kebobolan lima kali dalam satu pertandingan sejak 1969.
“Kami memiliki beberapa ledakan permainan yang sudah lama tidak kami miliki,” kata kapten Prancis, Mbappe. “Namun hanya dalam 10 menit babak pertama, kami kebobolan dua gol - dan hal yang sama terjadi di babak kedua,” ujar penyerang Real Madrid itu.
“Kami tidak konsisten selama 90 menit, tetapi kami berkembang. Ketika Anda tidak menang, selalu ada hal-hal negatif yang muncul. Namun tidak semuanya negative,” tuntasnya.
Editor: Aspian Nur