Satu gol yang dicetak Brennan Johnson dari sudut sempti menit ke-42 sudah cukup bagi The Lily Whites untuk mengangkat trofi juara setelah penantian selama 41 tahun di kancah Eropa, menghapus musim buruk mereka di kompetisi domestic, sementara bagi United kiprah mereka semakin suram dengan kegagalan meraih gelar juara dari ajang ini..
Keberhasilan Spurs sekaligus pemenuhan janji sang pelatih Ange Postecoglou untuk memenangkan gelar di tahun keduanya bersama klub dari Kota London Utara Inggris itu.
Lolos ke Liga Champions musim depan dan mengalahkan tim United yang sedang berada di titik terendah dalam kampanye yang berubah dramatis terjadi dua tahun setelah kapten dan legenda tim, Harry Kane, meninggalkan London untuk bergabung dengan Bayern Munchen di Bundesliga Jerman. Ironi sepak bola.
Itu adalah final yang menegangkan dengan dipertegas oleh fakta peringkat ke-17 dan ke-16 Liga Premier 2024-25 saling berhadapan. Musim buruk mereka di liga bukanlah suatu kebetulan dan mereka membuktikannya di Bilbao.
Tottenham lah yang merayakan di San Mamés. Gelar pertama mereka sejak 2008, gelar Eropa pertama mereka sejak 1984 dan gelar keempat dalam sejarah mereka setelah dua Piala UEFA dan satu Piala Winners. Mereka akan bermain di Liga Champions musim 2025/2026.
Tak ada senyum dari wajah Ruben Amorim, arsitek Manchester United, seperti saat mereka mengalahkan Athletic Bilbao dengan skor telak 0-3 di depan pendukung lawan yang membuat mereka menembus fase final ini.
Amorim menjalani musim Liga Primer yang sangat buruk, kalah dalam pertandingan Eropa pertamanya musim ini dihari dimana ia seharusnya menyapu bersih semua kekalahan.
Pria Portugal berusia 40 tahun itu mengakhiri pengalaman pertamanya di United dengan catatan buruk, klub yang ia ikuti pada November dari Sporting Lisbon . Bukan gelar, bukan Liga Champions, bukan pula kegembiraan yang dicari. "Kami adalah tim terbaik di lapangan, tetapi kami tidak bisa mencetak gol. Sulit untuk menang tanpa mencetak gol. Kami memberikan segalanya di babak kedua. Kami tidak bermain buruk," tegas Amorim mengutip dari Marca.com.
Pelatih asal Portugal itu menegaskan kembali bahwa minimnya gol telah menghambat mereka musim ini, dengan mengatakan, "Jika ada saat-saat selama musim ini ketika kami tidak menciptakan peluang mencetak gol , itu tidak terjadi di final ini. Masalahnya bukan pada satu pemain, karena ada banyak pemain yang belum mengonversi peluang mereka."
Amorim berusaha untuk tidak membicarakan masa depan setelah musim yang sulit dilupakan, tetapi akhirnya mengakui dia sadar situasinya rumit. “Saya tidak bisa membela diri. Saat ini, yang bisa saya minta hanyalah sedikit keyakinan dan jika dewan direksi menganggap saya tidak cocok untuk memimpin tim, saya harus pergi,” ungkapnya dengan nada pasrah.
Sementara Ange Postecoglou memuji anak asuhnya dan menegaskan keinginannya untuk tetap bertahan setelah klub mengakhiri puasa gelar selama 17 tahun dengan kemenangan di final Liga Eropa atas Manchester United.
Keberhasilan di Bilbao berarti Postecoglou telah memenuhi janjinya di musim gugur untuk selalu memenangkan trofi di musim keduanya, namun masih ada keraguan apakah sang chairman Daniel Levy akan membiarkan pelatih asal Australia itu tetap menjadi pelatih musim depan setelah musim yang berat di Premier League. “Santai bukanlah kata yang tepat karena saya akan kecewa jika kami tidak dapat melanjutkan jalur ini, tetapi itu bukan kritik,” sebut Postecoglou.
"Jelas sekali bahwa dengan cara yang terjadi di liga, orang-orang memang pantas untuk khawatir, namun saya tidak berpikir bahwa itu adalah cerminan yang sebenarnya dari posisi kami saat ini. Mereka tahu apa yang diperlukan untuk mencapai posisi kami saat ini. Saya pikir hal itu, mempercepat peluang untuk membangun tim yang bisa sukses dan bermain dengan standar tinggi untuk tahun-tahun mendatang,” paparnya.
Dengan spekulasi mengenai masa depannya yang merebak sebelum setiap pertandingan babak sistem gugur Liga Europa, Postecoglou membeberkan rencananya sendiri dalam beberapa hari ke depan sebelum ia menutup laga dengan menyanyikan lagu ‘Whatever Will Be, Will Be’ dari Doris Day pada tahun 1956 di San Mames.
"Tidak, tidak ada pertemuan yang direncanakan. Saya belum melakukan diskusi apa pun," jelas Postecoglou. "Yang saya tahu adalah, saya akan kembali ke kamar hotel saya, mengumpulkan keluarga dan teman-teman saya, membuka sebotol scotch yang bagus, menikmati beberapa minuman yang tenang, bersiap-siap untuk parade besar-besaran di London,” ungkapnya.
Editor: Aspian Nur