Kemenangan yang memastikan langkah Argentina ke Piala Dunia 2026 tak terbendung. Mereka jadi tim ketujuh yang lolos ke pesta sepakbola terbesar sejagat raya itu yang akan digelar di tiga negara, Amerika Serikat, Meksiko dan Kanada.
Berada di puncak klasemen dan mengemas 31 poin dari Zona Conmebol, poin tersebut tak terkejar oleh pesaing mereka Ekuador diposisi kedua dengan 23 poin dan Uruguay urutan ketiga dengan 21 poin, sementara Brasil sendiri menempati posisi keempat dengan poin sama seperti Uruguay.
Piala Dunia 2026 tahun depan jadi Piala Dunia ke-18 bagi Argentina, yang tidak pernah melewatkan Piala Dunia sejak gagal lolos ke Meksiko 1970 dengan tahun 1938, 1950 dan 1954 mereka juga tidak bermain sebagai bentuk protes karena alasan politik dan olahraga yang berbeda.
Dalam setiap perhelatan Piala Dunia Argentina selalu punya bintang permainan, yaitu Mario Kempes di tahun 1978, Diego Armando Maradona tahun 1986 dan tahun 2022 lalu ada Lionel Messi.
Pada pertandingan melawan Brasil, Argentina sudah memimpin 1-0 menit keempat lewat sontekan Julian Alvarez, digandakan Enzo Fernandez menit 12. Brasil sempat mencetak gol menit 26 lewat Matheus Cunha memanfaatkan kesalahan lini belakang tuan rumah. Namun Alexis McAllister menjauhkan margin jadi 3-1 menit 37 lewat gol yang dicetaknya. Gol penutup tercipta dibabak kedua menit 71 lewat Giuliano Simeone, putra dari legenda Argentina yang melatih Atletico Madrid, Diego Simeone.
Menariknya, Diego masuk ke lapangan pada menit ke-68, menggantikan Thiago Almada dan hanya membutuhkan tiga menit untuk menorehkan catatan penting di pertandingan bersejarah itu dengan mencetak gol spektakuler., menceploskan bola ke gawang kiper Brasil yang dikawal Bento dengan kaki kanannya tanpa membuat si kiper sempat bereaksi.
Argentina memastikan satu tiket ke Piala Dunia 2026 dari Zona Conmebol bersama trio tuan rumah Amerika Serikat (Concacaf), Meksiko (Concacaf), Kanada (Concacaf), Jepang dan Iran (AFC) serta Selandia Baru (OFC)
Sementara Brasil harus terus berjuang. Rapinha dkk belum kembali menjadi kekuatan sepak bola utama dunia selama bertahun-tahun.
Kemunduran mereka sudah berlangsung terlalu lama dan bahkan kemunculan nama-nama cemerlang pun tidak dapat mencegah citra tim yang tidak dikenal ini ternoda.
Pemain yang tampil memukau di klubnya, seperti Vinicius, Rodrygo, dan Raphinha, memudar saat mereka mengenakan kaus kuning. Ini bukan krisis yang akan berlalu karena sejatinya ada masalah yang jauh lebih dalam di sana. Sepakbola merindukan Brasil dan Brasil rindu bermain sepak bola bagus.
Editor: Aspian Nur