Manchester United tampil dibawah standar kala menghadapi tim papan bawah Southampton matchweek ke-21 di depan pendukung sendiri.
United memiliki peluang untuk kembali ke jalur kemenangan melawan The Saints yang sedang berjuang lolos dari jeratan degradasi tetapi tuan rumah tampil yang sejatinya tampil lebih baik sejak awal pertandingan tertinggal lebih dulu akibat gol bunuh diri Manuel Ugarte sebelum turun minum.
Usai jeda tuan rumah meningkatkan intensitas serangan sampai akhirnya menyamakan skor 1-1 menit 80 lewat akselerasi Amad Diallo, digandakannya delapan menit sebelum turun minum sampai akhirnya pemain asal Pantai Gading itu memastikan kemenangan 3-1 saat tambahan waktu menit 94.
Hattrick Diallo membuat United naik ke posisi 12 klasemen dengan 26 poin dari 21 pertandingan di tengah musim yang mengecewakan, sementara Southampton tetap memiliki enam poin dan terpaut 10 poin dari zona aman.
“Dalam sepak bola Anda harus percaya,” kata Diallo kepada TNT Sports. “Sangat senang bisa memenangkan ini. Kami tahu kami memiliki pemain-pemain berkualitas tetapi terkadang kami perlu lebih lapar di sepertiga akhir. Hari ini kami menunjukkan bahwa kami adalah tim terbaik di atas lapangan,” ujarnya.
Meskipun ada peningkatan baru-baru ini di bawah asuhan pelatih baru Ruben Amorim, United berlaga dengan tujuan menghindari kekalahan keempat berturut-turut di kandang sendiri untuk pertama kalinya sejak 1934.
Kurangnya kepercayaan diri mereka saat menguasai bola terlihat jelas dalam penampilan buruk di babak pertama. Alejandro Garnacho, yang baru pertama kali tampil sebagai starter di liga setelah lebih dari satu bulan, melepaskan satu peluang emas yang melebar, namun sebaliknya tim tamu menciptakan peluang terbaik.
Kemenangan pertama United, dalam waktu normal, dalam tujuh pertandingan di semua kompetisi sangat dibutuhkan. Akan tetapi, penampilan tersebut tidak cukup untuk menenangkan para pendukung Old Trafford yang tidak puas.
“Saya berasal dari Italia, kami adalah yang terbaik di dunia dalam hal mentalitas dan para pemain yang mereka lewatkan dalam hal ini,” ujar manajer the Saints, Ivan Juric.
“Ada saat di mana Anda harus menjadi orang Italia. Kami polos, seperti anak-anak, bermain dengan baik dan mereka mencetak gol. Kami harus menjadi lebih jahat,” sebutnya.
Editor: Aspian Nur