Tak seperti fase knock out lainnya yang langsung dilanjutkan dengan adu tendangan penalti setelah waktu normal berakhir, ada tambahan waktu 2x15 menit pada laga final ini dengan hasil akhir kemenangan untuk anak asuh Lionel Scaloni.
Wasit asal Brasil Raphael Claus harus bekerja keras memimpin laga karena pertandingan berlangsung keras sejak menit awal hingga waktu tambahan. Kapten Argentina Lionel Messi bahkan harus menyerah karena terus menerus jadi sasaran tekel pemain Kolombia. La Pulga harus keluar lapangan dan digantikan Nicolas Gonzalez menit 66.
Argentina menguasai jalannya pertandingan dibabak kedua ini namun tetap tak mampu menjebol gawang Los Cafeteros yang dikawal Camilo Vargas. Masuknya Lautaro Martinez pada menit 97 ekstra time menggantikan Julian Alvarez jadi kunci keberhasilan Argentina.
Menerima umpan dari Giovani Lo Celso dari lini tengah, penyerang Inter Milan itu lolos ke kotak penalti lawan dan melepaskan tendangan keras, menjebol gawang Kolombia
Usai pertandingan, Lionel Messi terlihat menangis. Peraih delapan kali Ballon d'Or itu mengalami cedera pada pergelangan kakinya pada menit ke-36 di laga final melawan Kolombia, namun tetap bermain hingga menit ke-66 saat ia tertatih-tatih meninggalkan lapangan sambil menangis, sebelum membalut pergelangan kakinya yang bengkak dengan kompres es di bangku cadangan.
Messi yang berusia 37 tahun mengangkat trofi bersama rekan setimnya, Angel di Maria dan Nicholas Otamendi, keduanya berusia 36 tahun. "Leo adalah pemain terhebat dalam sejarah. Dia tidak pernah ingin meninggalkan lapangan. Pergelangan kakinya bengkak dan dia ingin terus bermain," kata pelatih Argentina Lionel Scaloni kepada wartawan.
"Saya lebih suka para pemain dan rekan setimnya melihat hal itu, dia berusia 30-an tahun dan dia ada di sana dan dia ingin berkontribusi. Dia ingin bermain bukan karena dia egois atau egois. Ia ingin terus bermain karena ia tidak ingin meninggalkan rekan-rekan setimnya," paparnya.
Messi telah mengisyaratkan pensiun dalam beberapa kesempatan dalam beberapa bulan terakhir, mengatakan pekan ini bahwa ia dan rekan-rekannya sesama pemain veteran Argentina sedang berjuang dalam "pertempuran terakhir" mereka di Copa America.
"Saya mengenal Leo (Messi), saya tahu bagaimana cara dia berpikir. Dia selalu ingin berada di sana, tetapi fakta bahwa dia adalah bagian dari tim ini adalah hal terbaik bagi kami," kata gelandang Rodrigo De Paul kepada TyC Sports.
"Dengan Fideo (Di Maria), saya sedih melihatnya pergi, tetapi saya juga senang karena dia adalah salah satu dari sedikit pemain yang bisa mengucapkan selamat tinggal dengan cara seperti ini sebagai juara Piala Dunia dan Copa," sebutnya.
Pelatih Kolombia Nestor Lorenzo memilih untuk menjadikan penampilan Shakira sebagai penyebab kekalahan timnya dari Argentina.
Diketahui pada pertandingan final tersebut usai babak pertama Shakira tampil diatas panggung terbuka di tengah lapangan untuk membawakan lagu dan tarian yang mana hiburan untuk penonton tersebut justru disambut cemberut Nestor Lorenzo.
Shakira sendiri lahir di Barranquilla, Kolombia dan sangat mendukung tim nasional mereka selama Copa America dan tim nasionalnya berada di final yang tentu saja merupakan sebuah kehormatan untuk tampil di hari itu.
"Saya harap Anda menikmatinya, Shakira sangat hebat," sindir Nestor. "Untuk sebuah final, ketika peraturan berubah untuk kedua tim, lapangan yang buruk untuk keduanya atau cuaca yang sama untuk keduanya, maka saya tidak bisa mengatakan apakah itu buruk atau menguntungkan salah satu pihak," tegas Nestor lagi.
"Saya tidak dapat memahaminya, saya berharap itu seperti yang lainnya. Ketika kami keluar pada menit ke-16 kami mendapat sanksi, tetapi sekarang karena ada pertunjukan kami bisa keluar pada menit ke-20. Para pemain bisa saja kedinginan, namun itu terjadi pada kedua tim. Saya baru tahu hari ini memang begitulah adanya, dan hanya itu." paparnya.
Terlepas dari itu, Nestor Lorenzo merasa bangga dengan tim asuhannya dan mengatakan mereka telah melalui jalan yang lebih sulit untuk mencapai final dibandingkan dengan para pesaing mereka. Anak asuhnya sudah memberikan segalanya dalam turnamen yang diselenggarakan di Amerika Serikat ini. "Mereka memainkan enam pertandingan dalam 21 hari. Kami mulai merasakan efeknya," tambahnya.
"Ini bukan keluhan, tetapi kami berharap konsistensi, untuk menjaga kebugaran para pemain. Kami memainkan jumlah pertandingan yang sama dengan Argentina, dengan empat hari lebih sedikit untuk pemulihan. Kami harus bermain di Pantai Barat dan daerah-daerah terpanas dengan semua perjalanan," ungkapnya.
Kekalahan ini adalah yang pertama bagi Kolombia sejak mereka kalah dari Argentina pada Februari 2022 dan Lorenzo mengatakan bahwa timnya baru saja memulai.
"(Lionel) Scaloni telah bersama timnya selama tujuh tahun. Saya mengucapkan selamat kepadanya. Ini adalah hasil yang spektakuler, tetapi sekarang ini bukan (hanya) sebuah rentetan, ini adalah sebuah era. Kami baru saja memulai. Semoga kami bisa bermain di final berikutnya. Kami ingin lolos ke Piala Dunia," harap Nestor Lorenzo.
Kolombia berada di urutan ketiga dalam klasemen kualifikasi Amerika Selatan untuk Piala Dunia 2026, dengan pertandingan putaran berikutnya akan digelar pada September mendatang.
Argentina dan Kolombia bertemu di semifinal Copa América 2021, dengan Albiceleste menang melalui adu penalti. Pada tahun 2019, di babak penyisihan grup, Kolombia menang 0-2. Pada tahun 2015, kedua tim bertemu di perempat final dan Argentina juga menang melalui adu penalti. Bagi kapten Argentina Lionel Messi, ini akan menjadi final kesepuluhnya bersama negaranya.
Argentina memang difavoritkan untuk memenangi gelar Copa America 2024. Tim asuhan Lionel Scaloni berhasil mewujudkan cita-cita meraih Triple Crown (Copa América, Piala Dunia dan Copa América), sedangkan Leo Messi bisa mencapai rekor dalam rekornya, karena ia berhasil menambah gelarnya yang ke-45.
Khusus untuk Angel di Maria, ini adalah pertandingan terakhirnya bersama Argentina karena sudah menyatakan pensiun dan sudah memainkan 145 laga bersama Albiceleste.
Editor: Aspian Nur