Para pemain sayap muda Spanyol berkombinasi untuk memberi mereka keunggulan dua menit setelah jeda saat umpan dari Lamine Yamal membuka ruang bagi Nico Williams menit 47 untuk menaklukkan penjaga gawang Inggris, Jordan Pickford, dengan sebuah tendangan keras mendatar.
Cole Palmer yang masuk menggantikan Kobbie Mainoo untuk memperkuat lini serang The Three Lions memberikan harapan akan kebangkitan dramatis lainnya dengan tendangan kaki kiri di menit ke-73, menyamakan skor 1-1.
Namun, Spanyol lah yang meraih kemenangan empat menit sebelum pertandingan berakhir saat Oyarzabal menyontek bola umpan silang dari Marc Cucurella menit 86
Inggris pun harus kembali merasakan kesedihan karena dua kali beruntun kalah di final, dari Italia tiga tahun yang lalu dan kini tim Spanyol, masing ditambah dengan kegagalan pada semi final Piala Dunia 2018 dan perempat final Piala Dunia di Qatar tahun 2022. Penantian mereka sangat panjang, karena terakhir kali juara Piala Dunia 1966 dan belum berakhir hingga 58 tahun.
Masih harus dilihat apakah pelatih Gareth Southgate akan tetap bertanggung jawab untuk Piala Dunia 2026 namun mungkin saja ini akan menjadi kekecewaan baginya sebagai pelatih.
Sang kapten, Harry Kane, mendapatkan bagian dari Sepatu Emas Euro 2024 dengan mencetak tiga gol, namun dalam segala hal lainnya, turnamen ini merupakan kekecewaan besar bagi sang kapten Inggris. Kane terlihat kurang bugar dan kurang tajam dalam pertandingan, sebuah bayangan dari penyerang kelas dunia yang telah sering mencetak gol di masa lalu dan menjadi pencetak gol terbanyak bagi Inggris.
Kane pun diganti atas tuntutan pendukung Inggris oleh Ollie Watkins di awal babak kedua. Southgate membuat perubahan yang berani dengan memilih Luke Shaw sebagai bek kiri dan bukannya Kieran Trippier, saat dia kembali ke empat bek. Ini merupakan penampilan pertama sang pemain bertahan Manchester United sebagai starter dalam 148 hari dan merupakan penampilan pertamanya sebagai starter di timnas Inggris sejak Juni 2023 dan ia meresponnya dengan penampilan yang luar biasa.
Southgate yang berusia 53 tahun, telah menjadi pelatih sejak 2016 namun kontraknya saat ini akan berakhir pada bulan Desember. "Sekarang bukan waktunya bagi saya untuk membicarakan hal itu (kontrak sebagai pelatih Inggris). Saya harus berbicara dengan orang yang tepat dan memberi diri saya sedikit waktu. Untuk mencapai final lainnyamerupakan sebuah kehormatan untuk mendapatkan kesempatan itu. Namun untuk gagal adalah hal yang sulit saat ini," ungkapnya
Di bawah asuhan Southgate, Inggris telah mencapai final Eropa secara beruntun serta semifinal Piala Dunia 2018 dan delapan besar Piala Dunia 2022.
"Para pemain akan mendapat pujian yang sangat besar karena telah membawa kami ke tempat yang kami tuju, namun ketika Anda berada sedekat itu, Anda harus mengambil kesempatan," kata Southgate kepada ITV.
"Mereka telah mewakili jersey ini dengan penuh kebanggaan dan tidak terkalahkan sampai akhir. Saya hanya berpikir Spanyol lebih menguasai permainan. Inggris berada dalam posisi yang sangat bagus dalam hal pengalaman yang mereka miliki. Sebagian besar dari skuat ini akan berada di sini untuk Piala Dunia berikutnya dan mungkin Euro berikutnya.
Sementara Spanyol kembali ke puncak kejayaan di Eropa dengan mempercayai dua pemain muda luar biasa yang memainkan peran penting dalam memastikan Inggris tidak akan mengangkat trofi ini.
Nico Williams Jr tampil penuh energi dan keyakinan sejak peluit pertama dibunyikan, menyelesaikan dengan sempurna saat mendapatkan kesempatan untuk mencetak gol pembuka dari Yamal, harapan besar jangka panjang Spanyol lainnya.
Yamal, yang merayakan ulang tahunnya yang ke-17 sehari sebelum pertandingan final, sekali lagi bermain dengan kedewasaan yang melebihi usianya dan selalu menjadi ancaman, memaksa Pickford melakukan penyelamatan gemilang dan juga melakukan penyelamatan yang lebih rutin ketika ia kembali membuka lini pertahanan lawan.
Yamal pun dinobatkan sebagai pemain muda terbaik turnamen, sementara Williams yang berusia 22 tahun menjadi pemain terbaik di final ini. Mereka telah mendapatkan kepercayaan dari pelatih Spanyol, Luis de la Fuente dan membalasnya dengan spektakuler di Berlin.
Spanyol tak terkalahkan selama tampil di Jerman. "Sulit untuk meningkatkan sesuatu seperti itu, tetapi saya ingin para pemain saya terus tumbuh dan berkembang," kata pelatih berusia 63 tahun itu.
"Mereka tidak kenal lelah, mereka akan terus berkembang dan berusaha untuk menang. Mereka semua harus merasa bangga. Saya harap semua orang merasa sama bangganya dengan generasi pemain ini yang dapat membuat sejarah dan memiliki masa depan yang panjang di depan mereka," imbuhnya.
Ini merupakan momen yang manis bagi De la Fuente, yang telah bekerja dengan sebagian besar pemainnya selama lebih dari satu dekade saat ia mulai melatih tim muda Spanyol pada tahun 2013.
Diejek sebagai "Luis de la Who?" saat ditunjuk untuk melatih tim senior 18 bulan yang lalu, ia telah menerapkan pendekatan menyerang yang ganas, beralih dari gaya "tiki-taka" berbasis penguasaan bola yang telah membantu Spanyol memenangkan Piala Dunia dan dua kali berturut-turut di Euro.
"Saya mencoba menerapkan ide saya sendiri, sebuah ide yang saya tahu dapat diterapkan oleh para pemain saya di lapangan," ujar De La Fuente.
Ditanya mengenai masa depannya, De la Fuente mengatakan ia yakin akan memperpanjang kontraknya sebagai pelatih pada waktu yang tepat. "Saya tidak mengkhawatirkan hal itu sekarang, hari ini adalah hari untuk merayakan dan berbahagia," sebut La Fuente, merefleksikan tim-tim besar yang telah dikalahkan Spanyol dalam perjalanan menuju kemenangan mereka, termasuk tim-tim kelas berat Italia, Jerman dan Prancis serta Inggris.
"Mereka (para pemain Spanyol) memenangkan turnamen ini dengan rasa aman dan percaya diri yang luar biasa dengan cara yang belum pernah kita lihat sebelumnya," tuntasnya.
Editor: Aspian Nur