Pemain bertahan Belanda Nathan Ake mengakui mereka sangat dekat untuk meraih impian kembali juara. Pertandingan ini sendiri menjadi laga yang tidak asing bagi Ake, yang bermain untuk Manchester City di Premier League dan akan berhadapan dengan beberapa rekan setimnya di klub.
"Saya sudah tidak sabar menantikannya. Ada banyak pemain yang saya kenal dari Premier League. Kami tahu kualitas individu mereka dan ini adalah semifinal, jadi ini akan sulit. Kami sedang membangun momentum. Kami telah melewati tahap-tahap sulit di awal turnamen dan sekarang kami telah melewati ujian lain sehingga saya pikir kami siap untuk itu,” ujar Ake.
"Diunggulkan atau tidak tidak masalah bagi kami. Kami fokus pada diri kami sendiri. Kami tahu apa yang harus kami lakukan. Kami sudah sangat dekat sekarang," ucapnya.
Kedua tim telah melaju ke semi-final meskipun menghadapi kritik dari para pendukung dan media. Ake mengatakan setiap tim di semi-final layak berada disana namun Belanda juga tampil mengecewakan, gagal untuk tampil baik di fase grup dan bermain buruk di babak pertama saat menghadapi Turki.
Penyerang Liverpool, Cody Gakpo, pencetak gol terbanyak di turnamen mengatakan saat Inggris menang itu adalah pertanda baik “Seperti kami. Pada akhirnya, itu adalah hal yang paling penting. Anda bisa memainkan sepak bola yang bagus tetapi tetap saja tersingkir. Tentu saja saya pikir semua orang tahu bahwa setiap negara dapat bermain sedikit lebih baik, tetapi jika Anda menang, itulah yang terpenting," sebutnya.
Manajer Belanda Ronald Koeman mengatakan timnya akan harus berjuang namun sangat antusias dengan prospek dua negara besar yang akan saling berhadapan. "Inggris memiliki pemain-pemain yang bagus, tetapi saya pikir kami juga memiliki pemain-pemain yang bagus," kata Koeman.
"Sekarang kami akan bermain di Dortmund, stadion terindah yang bisa Anda mainkan. Saya juga sangat bangga dengan para pendukung kami. Kami berada di semifinal dan tidak ada yang menduga hal itu," tegasnya.
Sementara pelatih Inggris Gareth Southgate mengungkapkan dirinya menggunakan kritik pedas terhadap pemerintahannya selama Euro 2024 sebagai bahan bakar untuk mendorong Inggris meraih kejayaan dan tampil di semi final.
Pelatih berusia 53 tahun ini mendapat banyak kritikan sejak awal turnamen karena beberapa penampilan yang mengecewakan, meskipun mencapai semifinal ketiga dalam empat turnamen.
The Three Lions, yang membutuhkan adu penalti untuk mengalahkan Swiss di perempat final, merupakan runner-up pada tahun 2021 tetapi telah tersandung sejauh ini. Gelas plastik dilemparkan ke arah sang pelatih, Gareth Southgate, setelah hasil imbang tanpa gol melawan Slovenia dan ia dicemooh dan ditanyai di sepanjang pertandingan. Para penggemar mencemooh Southgate dan bahkan melemparinya dengan gelas bir selama fase grup di Jerman.
Namun euforia kemenangan adu penalti Inggris atas Swiss membantu membangun kembali hubungan dengan para penggemar menjelang pertandingan melawan Belanda.
“Dengar, saya tidak dapat menyangkal bahwa beberapa hal yang bersifat pribadi. Ini adalah pekerjaan dimana kami diejek dan kemampuan profesional dipertanyakan tanpa bisa dipercaya dan menurut saya dilempar bir juga bukan hal yang normal,” ucap Southgate.
“Saya beruntung karena hidup saya telah membawa saya melalui banyak hal yang membangun ketahanan dan itu membuat saya lebih bertekad dan saya hanya menggunakannya sebagai bahan bakar. Saya tahu ke mana saya ingin membawa tim ini dan tim juga perlu melihat saya kuat pada saat-saat itu, jika tidak, pesan yang berikan kepada mereka tentang apa yang mereka butuhkan, tidak akan terdengar benar,” ucap Southgate.
Editor: Aspian Nur