Bukayo Saka kemudian menampilkan sebuah momen kecemerlangan individu yang sangat diandalkan oleh Inggris di sepanjang turnamen untuk menyamakan kedudukan melalui sebuah tendangan keras mendatar lima menit kemudian.
Perpanjangan waktu gagal untuk menemukan pemenang, Inggris lolos dengan satu set adu penalti yang sempurna setelah penjaga gawang Jordan Pickford menggagalkan tendangan titik putih pertama dari Manuel Akanji.
Cole Palmer, Jude Bellingham, Saka dan Ivan Toney semuanya berhasil sebelum pemain pengganti Trent Alexander-Arnold menyarangkan tendangan penalti yang menentukan di depan para pendukung Inggris yang bergemuruh.
Mereka kini dapat menantikan pertandingan semi-final melawan Belanda di Dortmund dan menjadi pertama kalinya kedua negara saling berhadapan di turnamen besar sejak babak penyisihan grup Euro 1996 atau 28 tahun silam.
Inggris telah melaju ke semi-final Euro 2024 hampir secara diam-diam, menampilkan penampilan yang tidak meyakinkan untuk waktu yang lama lalu kembali tertinggal sebelum akhirnya dapat bangkit dan meraih kemenangan.
Pelatih Inggris Gareth Southgate akhirnya dapat merayakan kemenangan di pertandingan ke-100 sebagai pelatih, namun hanya setelah 120 menit yang menyiksa dan masa-masa yang mencemaskan ketika Inggris terlihat akan tersingkir.
Penampilan Inggris di Jerman mungkin tidak mencapai standar yang tinggi namun tidak diragukan lagi ketangguhan dan kemampuan mereka untuk mengatasi kesulitan, seperti yang mereka buktikan lagi setelah Swiss unggul lebih dulu.
Ini merupakan momen yang sangat manis bagi pemain Liverpool, Alexander-Arnold, untuk mencetak gol penalti yang menentukan, setelah dicoret dari posisi sebagai pemain tengah setelah pertandingan kedua mereka, melawan Denmark dan kemudian diabaikan saat Southgate memutuskan untuk menggunakan bek sayap.
Strategi tiga bek baru Inggris terlihat lebih nyaman bagi para pemain, namun melawan Swiss yang terorganisir dan percaya diri, tidak memberikan ancaman seperti halnya rencana Southgate sebelumnya.
Seperti gol penyama kedudukan Bellingham 86 detik sebelum waktu normal berakhir atas Slovakia, tendangan Saka yang membuat Inggris tetap bertahan merupakan tendangan tepat sasaran pertama mereka dalam pertandingan ini.
Inggris pada akhirnya tidak akan peduli karena ini merupakan sebuah tugas yang harus diselesaikan, namun tentu saja terdapat batas seberapa sering mereka dapat menyulitkan diri mereka sendiri sebelum mereka dapat lolos.
Gol dari Saka merupakan hadiah dari penampilan terbaiknya, sedangkan pemain Aston Villa, Ezri Konsa, tampil sempurna di lini belakang sebagai pengganti Marc Guehi yang terkena skorsing. Kobbie Mainoo juga tampil gemilang di lini tengah, namun masih menjadi misteri mengapa tim Inggris yang dipenuhi dengan pemain-pemain yang memiliki kemampuan menyerang terlihat begitu lemah dalam waktu yang lama - sesuatu yang harus dipecahkan oleh Southgate sebelum pertandingan semi-final.
Southgate percaya diri dengan para penendang penaltinya, hingga ia merasa dapat menarik keluar sang kapten dan ahli tendangan penalti, Harry Kane dari pertandingan dengan 11 menit waktu tambahan tersisa, digantikan Toney.
Bagi Saka, ini adalah momen penebusan setelah ia gagal menepis tendangan penalti yang menentukan di Wembley tiga tahun lalu, saat Italia mengalahkan Inggris untuk memenangkan final Kejuaraan Eropa terakhir melalui adu penalti.
“Jika saya tidak dapat menikmati momen ini maka saya membuang-buang waktu,," kata Southgate. "Saya mencintai para pemain dan berbagi momen dengan mereka. Saya tidak dapat menyangkal ketika itu [kritik] bersifat pribadi seperti yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir pada tingkat manusia, itu cukup sulit. Kami terus memberikan kenangan yang fantastis kepada orang-orang. Kami akan terus menikmati perjalanan ini," imbuhnya.
Inggris kini telah mencapai semifinal turnamen besar ketiga mereka di bawah asuhan Southgate. "Sekarang kami ingin memberikan satu hal lagi - kami tidak pernah ke final di luar Inggris, tidak pernah memenangkan Euro, jadi ada dua bagian dari sejarah yang ingin kami ciptakan," tegasnya.
Sementara pelatih Swiss Murat Yakin menyebut anak-anak asuhannya telah berusaha keras di laga ini. "Itu menyakitkan. Kami berusaha keras, menciptakan begitu banyak peluang. Saya sedih untuk para pemain dan negara ini (Swiss)," kata Murat Yakin.
Dia menyebut Granit Xhaka dan kawan-kawan lebih banyak memiliki peluang dibanding Inggris dalam pertandingan tersebut. Yakin mengatakan Swiss tidak pantas tersingkir dari perempat final Euro 2024. "Inggris tidak memiliki banyak peluang dan kami menciptakan beberapa peluang sendiri," ucap pelatih berusia 49 tahun itu. "Kami tidak pantas untuk pulang tapi kami bisa sangat bangga. Inggris juga tidak pantas kalah, tapi seseorang harus kalah," tambahnya.
Kekalahan ini juga membuat Swiss memiliki empat dari lima pertandingan babak gugur Euro terakhir mereka yang harus diselesaikan melalui drama adu penalti. Sebelum ke perempat final, Swiss membuat kejutan dengan menyingkirkan juara bertahan Italia di babak 16 besar Euro 2024 lewat kemenangan 2-0.
Editor: Aspian Nur