Setelah berhasil digagalkan oleh sang penjaga gawang Gianluigi Donnarumma selama hampir satu jam, sebuah sontekan dari Alvaro Morata mengenai lutut dari Calafiori dan masuk gawang sendiri. Tidak ada respon dari Italia, yang berada di posisi kedua klasemen.
Pertemuan dua raksasa Eropa di fase grup turnamen ini membuat harapan yang tinggi dan hal tersebut terbukti dengan babak pertama yang sangat menarik.
Gli Azzurri pantas berterima kasih pada Donnarumma saat dia melakukan tiga penyelamatan gemilang, menepis sundulan Pedri di dua menit pertama, sebelum kemudian menggagalkan tendangan Fabian Ruiz dan Morata.
Pemain Spanyol Nico Williams, seharusnya dapat mencetak gol ketika sundulannya melebar, kemudian membentur mistar gawang, namun ia tampil impresif bersama dengan pemain muda sensasional Lamine Yamal yang masih berusia 16 tahun, yang bermain dengan bebas, melepaskan tendangan melengkung yang melebar tipis di menit-menit akhir.
Dengan hasil ini Spanyol berada di puncak klasemen dengan 6 poin dan lolos ke fase kedua dibayangi Italia urutan kedua dengan 3 angka, sementara Albania dan Kroasia sama-sama mengantongi satu poin. La Furia Roja pun menyusul tuan rumah Jerman sebagai tim kedua yang lolos dari penyisihan grup.
Italia masih memiliki kesempatan untuk melaju. Mereka akan menghadapi Kroasia tiga hari lagi, sebuah negara yang selalu berada di posisi tiga besar dalam dua Piala Dunia terakhir - sedangkan Spanyol akan menghadapi Albania.
"Saya melihat potensi yang dimiliki tim saya. Kemampuan untuk benar-benar membuat pekerjaan yang ringan dari tim kelas atas seperti Italia," kata pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, setelah pertandingan.
"Italia memenangkan Euro tiga tahun lalu dan kami masih jauh untuk memenangkannya, jadi saya suka fakta bahwa orang-orang berbicara tentang kami dan mempertimbangkan kami bisa menang sekarang," ujar Fuente lagi.
Italia masih harus bekerja keras untuk mencapai babak sistem gugur, namun kemenangan tipis mereka 2-1 atas Albania berarti mereka memiliki tiga poin yang berharga di papan klasemen dan mempertahankan gelar juara belum berakhir.
"Kami terus menerus tertekan dan mereka menyebabkan kami kesulitan - di luar dari apa yang terlihat di papan skor, jangan bertele-tele," ujar sang pelatih Italia Luciano Spalletti. "Kami tidak memainkan gaya sepak bola yang mengalir. Ketika kami memenangkan bola kembali, kami berjuang untuk mempertahankan penguasaan bola. "Ada terlalu banyak jurang pemisah dalam hal ketajaman dan kesegaran," ungkapnya.
Editor: Aspian Nur