Mereka mencetak gol dalam waktu 23 detik saat menghadapi Italia di pertandingan pembuka Grup B, sebelum akhirnya kalah 2-1, dan dalam pertandingan ini mereka kembali memimpin, sebelum bangkit dari ketertinggalan untuk meraih hasil imbang.
Qazim Laci mencetak gol untuk Albania menit 11 namun disamakan Andrej Kramaric menit 74 dan tertinggal 1-2 lewat gol bunuh diri Klaus Gjasula menit 76 sampai akhirnya si pemain membayar kesalahan dengan gol menit 90+5.
Spanyol dan Italia yang akan bersua dini hari nanti menempati posisi pertama dan kedua Grup B dengan sama-sama meraih tiga angka, sementara Albani dan Kroasia urutan tiga dan empat dengan satu angka dan masih berpeluang untuk lolos ke fase kedua.
"Kami bangga," ujar pelatih Albania, Sylvinho, setelah pertandingan. "Bangsa ini harus bangga dengan hasil dan penampilannya. Para pemain meninggalkan segalanya di dalam lapangan. Itu luar biasa dan mewakili orang-orang kami," ucapnya.
Meskipun mereka berbagi hasil yang sama, suasana hati mereka sangat berbeda untuk Kroasia. Hanya dua tahun setelah mereka mengalahkan Brasil untuk mencapai semifinal Piala Dunia di Qatar, mereka menghadapi kemungkinan besar untuk tersingkir dari turnamen ini di babak penyisihan grup.
Saat peluit akhir dibunyikan, para pemain Kroasia berlutut, mengetahui betapa besar dampak dari kekalahan ini.
Setelah dua pertandingan di Grup B, mereka hanya memiliki satu poin dan harus mengalahkan Italia di pertandingan terakhir mereka empat hari lagi untuk memiliki kesempatan melaju. "Para pemain Kroasia sangat marah," ujar mantan pemain sepak bola Premier League, Clinton Morrison, di BBC Radio 5 Live. "Mereka tahu akan menghadapi laga berat melawan Italia, mereka harus tetap percaya, namun bahasa tubuh mereka terlihat seperti sudah tersingkir," ungkapnya.
Meskipun hasil tersebut layak untuk Albania yang tampil penuh determinasi dan semangat, hasil tersebut juga menimbulkan pertanyaan mengenai tim Kroasia. Sebelumnya, mereka pernah berada di posisi yang hampir sama dengan posisi Albania saat ini.
Mereka adalah tim underdog yang mengejutkan tim-tim besar, meskipun mereka memiliki beberapa pemain dengan nama besar yang membantu mereka melaju jauh di turnamen besar.
Pada Piala Dunia 2018 mereka mengalahkan Argentina dan Inggris dalam perjalanan mereka ke final, lalu empat tahun kemudian mereka mengalahkan Brazil sebelum akhirnya finis di peringkat ketiga.
Gelandang lincah Real Madrid, Luka Modric, bermain di kedua Piala Dunia tersebut, dan ia kembali menjadi jimat mereka di Jerman. Namun ia kini telah berusia 38 tahun, sedangkan pemain kunci lainnya dari turnamen sebelumnya seperti Andrej Kramaric dan Ivan Perisic telah berusia 30-an.
Ketidakmampuan Kroasia untuk menandingi tempo Albania menunjukkan para pemain kunci negara tersebut, yang dianggap sebagai generasi emas mereka, mungkin akan segera pensiun.
"Piala Dunia telah berlalu dua tahun yang lalu dan para pemain kami telah semakin tua," ujar pelatih Kroasia, Zlatko Dalic. “Namun turnamen ini telah menunjukkan kepada kita bahwa semua orang mengalami kesulitan. Bagi Portugal, sulit bagi mereka untuk meraih kemenangan saat menghadapi Republik Ceko dan juga Inggris saat menghadapi Serbia, jadi turnamen ini benar-benar terbuka dan semua tim cukup seimbang," ujarnya lagi.
Meskipun hasil dan penampilan melawan Albania ini mengecewakan bagi Kroasia, namun lain ceritanya dengan kekalahan 3-0 mereka di pertandingan pembuka melawan Spanyol. Pertandingan tersebut berjalan seimbang, namun perbedaannya adalah Spanyol mampu memanfaatkan peluang mereka. "Sepak bola bukanlah sesuatu yang dapat Anda prediksi," kata penyerang Kroasia, Kramaric.
"Kami akan percaya sampai akhir," tambah Kramaric. "Kami berharap bisa sedikit lebih beruntung saat menghadapi Italia. Kroasia tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan cara yang mudah, kami telah membuktikannya berkali-kali. Kami akan melakukan yang terbaik untuk meraih tiga poin ini," tegasnya.
Editor: Aspian Nur